Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak mewujudkan ancaman untuk mempersiapkan perang melawan Rusia. Ia menegaskan, jika Eropa melancarkan serangan terhadap Federasi Rusia, Moskow akan merespons dengan kekuatan militer skala penuh sesuai doktrin pertahanan negara tersebut.
Dalam wawancara dengan saluran televisi Rusia NTV, Lavrov mengatakan bahwa apabila Eropa benar-benar memulai serangan terhadap Rusia, respons Moskow tidak akan lagi berada dalam kerangka yang disebutnya sebagai “operasi militer khusus”. Ia menyebut Presiden Vladimir Putin telah memperjelas bahwa Rusia akan menggunakan seluruh sarana yang dimiliki, merujuk pada dokumen doktrin yang relevan.
Lavrov juga menekankan bahwa Rusia, menurut klaimnya, saat ini hanya menjalankan operasi militer khusus di Ukraina dan tidak memiliki niat untuk menyerang negara-negara Eropa. “Kami sama sekali tidak berniat menyerang negara Eropa mana pun. Itu sama sekali tidak perlu bagi kami,” ujar Lavrov.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa setiap serangan langsung terhadap Rusia akan dibalas secara tegas. Menurutnya, kesiapan militer Rusia sepenuhnya disesuaikan dengan doktrin pertahanan nasional yang berlaku.
Pernyataan Lavrov sejalan dengan sikap Presiden Vladimir Putin yang sebelumnya menepis tudingan bahwa Moskow berencana menyerang NATO. Dalam konferensi pers akhir tahun pada Desember lalu, Putin menyebut tuduhan tersebut sebagai hal yang “tidak masuk akal”.
Di sisi lain, para pejabat Rusia menilai meningkatnya bantuan militer Barat kepada Ukraina—termasuk pengiriman senjata jarak jauh dan teknologi persenjataan canggih—telah memperbesar risiko meluasnya konflik. Moskow juga menuduh Uni Eropa berupaya menggagalkan perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat dengan Ukraina serta sengaja memperpanjang konflik di kawasan tersebut.

