Netflix merilis laporan bertajuk The Netflix Effect yang membahas dampak investasi konten digital terhadap ekonomi, budaya, dan sosial di berbagai negara. Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut sebagai salah satu pasar yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, seiring menguatnya kinerja konten lokal di platform tersebut.
Netflix mencatat kontribusi ekonomi global selama satu dekade terakhir mencapai lebih dari US$325 miliar atau sekitar Rp5.100 triliun. Di Indonesia, ekspansi layanan streaming ini dinilai tidak hanya memperluas pilihan tontonan, tetapi juga membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau penonton internasional.
Salah satu sorotan laporan itu adalah capaian konten orisinal Indonesia di pasar global. Hingga Januari 2025, sebanyak 35 judul film dan serial asal Indonesia tercatat berhasil masuk daftar Global Top 10 Non-English Netflix.
Di pasar domestik, laporan yang sama menyebut lebih dari 90% anggota Netflix di Indonesia rutin menonton konten lokal sepanjang tahun 2025. Beberapa judul yang disebut menjadi penanda pencapaian antara lain Abadi Nan Jaya (2025), The Shadow Strays (2024), dan Gadis Kretek (2023). Selain itu, Luka Makan Cinta (2026) juga disebut bertengger di posisi #6 Global Top 10 dengan total 2,4 juta penayangan.
Menurut laporan tersebut, Abadi Nan Jaya disebut sebagai film zombie pertama Indonesia yang menduduki posisi #1 di Global Top 10 dan masuk daftar populer di 75 negara dalam hitungan hari. Sementara The Shadow Strays, film action thriller karya Timo Tjahjanto, disebut menembus Top 10 di 85 negara dalam sepekan. Adapun Gadis Kretek disebut meraih 1,6 juta penayangan dalam seminggu sekaligus memperkenalkan narasi budaya dan sejarah industri tembakau Indonesia ke penonton global.
Secara global, Netflix menyatakan telah mengucurkan investasi lebih dari US$135 miliar untuk produksi film dan serial. Investasi ini dikaitkan dengan penciptaan lapangan kerja, yakni 425.000 posisi pekerjaan inti serta keterlibatan lebih dari 700.000 pekerja tambahan di berbagai lokasi produksi.
Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, dalam laporan itu menekankan pendekatan lokal sebagai strategi utama perusahaan. “Setiap produksi Netflix adalah produksi lokal yang menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan bisnis setempat. Dampaknya meluas jauh melampaui layar,” ujar Sarandos.
Netflix juga menyebut kemitraan dengan lebih dari 2.000 rumah produksi lokal di seluruh dunia, termasuk dalam upaya memperkuat ekosistem industri kreatif. Di sisi pengembangan kapasitas, Netflix menjalankan program pelatihan melalui inisiatif Reel Life di Indonesia dan Thailand, yang disebut telah melatih lebih dari 300 profesional muda untuk memasuki industri televisi dan film.
Selain itu, sebanyak 500 profesional di bidang produksi—mulai dari editor, line producer, hingga akuntan produksi—disebut telah mengikuti pelatihan khusus untuk meningkatkan standar operasional agar setara dengan standar global. Langkah ini turut diperkuat melalui kolaborasi dengan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), termasuk workshop pengembangan kapasitas dan penyusunan panduan keselamatan produksi nasional pertama di Indonesia.
Netflix juga mencatat peningkatan konsumsi konten non-Inggris yang kini mencapai sepertiga dari total tontonan global. Melalui laporan tersebut, perusahaan menegaskan komitmen jangka panjang untuk terus membawa cerita-cerita Indonesia ke penonton di 190 negara.