BERITA TERKINI
Lailatul Qadar di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global

Lailatul Qadar di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global

Memasuki hari-hari ganjil di penghujung Ramadan, sebagian umat Islam menanti datangnya Lailatul Qadar—malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Dalam tradisi itu, sunyi dipahami sebagai ruang untuk mendekat, sementara doa menjadi penghubung antara kehidupan yang sementara dan harapan yang lebih abadi.

Namun, suasana batin tersebut tahun ini terasa beririsan dengan kecemasan yang lebih luas. Dari kawasan Timur Tengah, kabar ketegangan bergerak cepat dan mempengaruhi banyak hal di luar wilayah konflik. Selat Hormuz, yang selama ini dikenal sebagai jalur strategis dalam peta geopolitik, kembali menjadi sorotan karena situasi yang kian tegang.

Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut berada dalam pusaran konflik lama yang kembali memanas. Ketika serangan dan ancaman saling berbalas, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik, tetapi merembet ke ketahanan ekonomi yang sudah rapuh di banyak tempat.

Dalam narasi yang berkembang, Selat Hormuz digambarkan tersumbat sehingga aliran pasokan energi terganggu. Disebutkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia terhenti di jalur tersebut. Kondisi itu mendorong harga minyak menembus lebih dari 100 dolar per barel dan memicu efek berantai: beban biaya energi meningkat, harga bahan bakar dan listrik ikut terdorong, hingga rumah tangga di berbagai daerah merasakan tekanan langsung pada pengeluaran sehari-hari.

Kekhawatiran lain yang mengemuka adalah ancaman kelaparan. Di dunia yang saling terhubung, perang di satu kawasan dapat memicu persoalan pangan di kawasan lain. Kenaikan biaya logistik dan terganggunya distribusi disebut berpotensi memperparah inflasi, membuat kebutuhan pokok kian sulit dijangkau, dan menimbulkan rasa gamang di tengah upaya masyarakat menjalankan kewajiban sosial seperti zakat fitrah.

Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan: apa yang bisa dilakukan ketika malam yang dimaknai sebagai “kemuliaan” justru dibayangi ketidakpastian global? Salah satu jawaban yang ditawarkan adalah kembali pada esensi puasa: menahan diri. Dalam konteks krisis energi dan ekonomi, menahan diri dipandang bukan hanya praktik spiritual, tetapi juga cara bertahan—mendorong orang memilah kebutuhan, mengurangi yang tidak substansial, dan memperkuat ketahanan sehari-hari.

Di tingkat kebijakan, pemerintah disebut dapat mendorong langkah seperti swasembada pangan atau pengembangan energi alternatif. Namun, di luar pendekatan teknokratis, ada kebutuhan yang dinilai tak kalah penting: solidaritas. Dalam situasi yang menekan, dorongan untuk saling membantu dan tidak bersikap kikir menjadi penyangga sosial yang menentukan.

Lailatul Qadar dalam tulisan ini diposisikan sebagai pengingat tentang pencerahan dan arah. Di masa sulit, “pencerahan” itu dibaca sebagai kesadaran bahwa krisis global tidak bisa dihadapi secara sendiri-sendiri. Peristiwa di Teheran atau Tel Aviv, sebagaimana digambarkan, dapat bergaung hingga mempengaruhi meja makan di tempat lain—menegaskan bahwa keterhubungan dunia membawa konsekuensi yang nyata bagi kehidupan sehari-hari.