Jumlah wisatawan asal Vietnam yang berkunjung ke Jepang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) mencatat, kunjungan wisatawan Vietnam pada Desember 2025 naik 9,1% dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Untuk keseluruhan tahun 2025, Vietnam diperkirakan membukukan 678.500 kunjungan ke Jepang, meningkat 9,2% dari tahun sebelumnya. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak 2019, sekaligus menegaskan posisi Jepang sebagai salah satu destinasi luar negeri terpopuler bagi wisatawan Vietnam.
JNTO menilai pertumbuhan pasar Vietnam tetap terjadi meski dihadapkan pada prospek ekonomi yang tidak pasti dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan. Salah satu pendorongnya adalah peningkatan frekuensi penerbangan rute Vietnam–Jepang yang memperluas ketersediaan kursi.
Tren ini sejalan dengan pemulihan permintaan perjalanan internasional di Vietnam. Berdasarkan data dari Kantor Statistik Umum (Kementerian Keuangan), pada 2025 sekitar 6,7 juta warga Vietnam diperkirakan melakukan perjalanan ke luar negeri, naik 26,4% dibandingkan 2024, dengan mayoritas tujuan berada di Asia.
Di sisi lain, Jepang juga mencatat capaian baru dalam pariwisata internasional. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menyatakan total kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 telah melampaui 40 juta. Ini menjadi kali pertama Jepang menembus tonggak tersebut dan mencetak rekor baru bagi industri pariwisatanya.
Menteri Kaneko menyebut pencapaian lebih dari 40 juta pengunjung sebagai “prestasi besar”, mengingat Jepang menargetkan 60 juta pengunjung internasional pada 2030. Ia juga menyoroti bahwa jumlah pengunjung dari Asia meningkat dibandingkan masa sebelum pandemi, sementara pertumbuhan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Australia menunjukkan pasar wisatawan Jepang kian beragam.
Data Badan Pariwisata Jepang menunjukkan 10 pasar wisata internasional terbesar pada 2025, yakni Korea (9,5 juta), Tiongkok daratan (9,1 juta), Taiwan (Tiongkok) (6,8 juta), Amerika (3,3 juta), Hong Kong (Tiongkok) (2,5 juta), Thailand (1,2 juta), Australia (1,1 juta), Filipina (0,89 juta), Singapura (0,73 juta), dan Kanada (0,69 juta).
Meski demikian, prospek pariwisata Jepang pada 2026 diperkirakan lebih hati-hati. Penurunan signifikan wisatawan dari Tiongkok disebut terjadi setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaich.
Perkiraan JTB Travel Group menyebut jumlah pengunjung internasional ke Jepang pada 2026 diproyeksikan turun menjadi sekitar 41,4 juta. JTB menilai pemulihan cepat permintaan pariwisata telah melewati puncaknya sehingga laju pertumbuhan kemungkinan melambat. Di tengah melemahnya permintaan dari Tiongkok daratan dan Hong Kong (Tiongkok), 2026 diproyeksikan mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Menteri Kaneko juga menyampaikan kehati-hatian dan menyatakan belum siap memberikan proyeksi spesifik karena dampak berbagai faktor terhadap jumlah pengunjung internasional. Ia menegaskan Jepang akan tetap mempromosikan pariwisata dari beragam pasar dengan fokus menarik wisatawan berpenghasilan tinggi, sekaligus mengatasi persoalan kepadatan wisatawan dan mendorong pembangunan berkelanjutan jangka panjang.

