Pemerintah Rusia mengecilkan dampak paket sanksi terbaru yang disahkan Uni Eropa terhadap perekonomian negara itu. Kremlin menyebut langkah tersebut “ilegal” dan memperingatkan bahwa pembatasan baru justru dapat berbalik merugikan negara-negara Barat yang menjatuhkannya.
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Jumat (18/7/2025), beberapa jam setelah Brussels menyetujui paket sanksi ke-18 terhadap Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 2022. Paket tersebut mencakup penurunan batas harga ekspor minyak Rusia dan pembatasan baru terhadap sektor perbankan Rusia.
“Kami tentu akan menganalisis paket baru ini untuk meminimalkan dampaknya,” kata Peskov dalam konferensi pers. Ia menambahkan, setiap paket sanksi baru menurutnya justru memperbesar efek negatif terhadap negara-negara yang menerapkannya.
Sejak sanksi berat pertama diberlakukan sebagai respons atas invasi ke Ukraina, Moskow berulang kali menyatakan ekonomi domestiknya mampu bertahan dan bahkan terus tumbuh. Peskov menegaskan Rusia telah beradaptasi hidup di bawah tekanan sanksi dan memiliki “imunitas” terhadap upaya pembatasan ekonomi dari negara-negara Barat.
Pejabat Rusia juga kerap menuduh negara-negara Barat melanggar hukum internasional melalui sanksi sepihak. Mereka mengeklaim Rusia berhasil mengatasi hambatan, terutama dalam menjaga ekspor energi serta stabilitas ekonomi makro.
Meski mengalami kontraksi pada 2022 saat kampanye militer ke Ukraina diluncurkan, ekonomi Rusia dilaporkan kembali tumbuh signifikan. Pertumbuhan itu ditopang belanja besar pemerintah untuk sektor militer, termasuk pengadaan senjata dan pendanaan pasukan.
Kremlin juga menilai sanksi mendorong penguatan kemandirian ekonomi Rusia, termasuk dengan memperluas kerja sama perdagangan dengan negara-negara Asia seperti China dan India. Namun, sejumlah analis independen dan institusi internasional menyoroti bahwa pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada sektor militer dan subsidi negara, sehingga dinilai berisiko tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dari pihak Uni Eropa, paket sanksi terbaru disebut sebagai salah satu yang paling kuat sejauh ini. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan langkah tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Rusia untuk melanjutkan perang di Ukraina.
“Setiap sanksi melemahkan kemampuan Rusia untuk berperang. Pesannya jelas: Eropa tidak akan mundur dalam dukungannya untuk Ukraina. Uni Eropa akan terus meningkatkan tekanan sampai Rusia menghentikan perangnya,” kata Kallas.
Paket baru ini mencakup pemangkasan batas harga minyak ekspor Rusia ke negara ketiga menjadi 15% di bawah harga pasar, serta perluasan daftar hitam terhadap kapal tanker tua yang digunakan Rusia untuk menghindari pembatasan ekspor. Selain itu, sanksi juga menyasar kilang milik Rusia di India, dua bank China, dan melarang kebangkitan kembali pipa gas Nord Stream 1 dan 2.

