Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan besar pada penerbangan sipil internasional. Penutupan sejumlah wilayah udara di kawasan itu memaksa maskapai mengubah rute, memperpanjang jarak tempuh hingga ribuan kilometer, serta mendorong lonjakan biaya operasional—dengan dampak berantai ke industri pariwisata di berbagai negara.
Situasi ini dirasakan langsung oleh wisatawan. Natasha Earle, seorang akuntan dari Dardanup, kota terpencil di Australia Barat, sebelumnya telah merencanakan perjalanan lima minggu keliling Eropa—mengunjungi London, Paris, Berlin, Wina, dan Roma—dengan penerbangan yang dipesan berbulan-bulan sebelumnya melalui Emirates. Namun konflik membuat rencana tersebut berubah total.
Akibat perubahan rute dan jadwal penerbangan, Earle harus menanggung biaya tambahan sekitar AUD 10.000 (lebih dari €6.000). Ia berharap bisa memperoleh pengembalian dana sekitar setengah dari total pembayaran kepada Emirates, tetapi besaran dan waktu pengembalian masih belum jelas.
Kasus Earle mencerminkan tekanan yang lebih luas pada sektor penerbangan dan pariwisata. Selama beberapa dekade, kawasan Teluk Persia menjadi simpul penting penerbangan global. Menurut data World Travel and Tourism Council (WTTC), penutupan wilayah udara di kawasan tersebut memicu lebih dari 43.000 pembatalan penerbangan hanya dalam beberapa minggu, bersamaan dengan kenaikan harga bahan bakar.
Para analis menilai ketidakstabilan ini berisiko memicu kerugian hingga 600 juta euro per hari secara global di sepanjang rantai nilai pariwisata. Maskapai besar di kawasan—Emirates, Qatar Airways, dan Etihad—yang secara bersama-sama mengangkut lebih dari separuh penumpang antara Eropa dan Oseania, kini beroperasi dengan kapasitas sangat terbatas. Industri pariwisata Timur Tengah yang bernilai sekitar US$367 miliar per tahun disebut nyaris lumpuh.
Dubai menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Kota ini tahun lalu menerima hampir 20 juta wisatawan internasional dengan tingkat hunian hotel rata-rata lebih dari 80%. Namun, Bandara Internasional Dubai sempat ditutup pada awal konflik, dan tingkat hunian hotel dilaporkan jatuh dari 90% menjadi 16%.
Dampak juga tercermin di pasar keuangan. Berdasarkan perkiraan Financial Times, 23 hari setelah konflik dimulai, 20 maskapai penerbangan terbesar dunia yang tercatat di bursa kehilangan sekitar US$53 miliar dalam kapitalisasi pasar. Kondisi itu dinilai menunjukkan keraguan pasar terhadap kemungkinan penyelesaian cepat. United Airlines bahkan mengumumkan pemangkasan penerbangan sebesar 5% dengan alasan kenaikan harga bahan bakar terkait konflik.
Di Italia, dampak terlihat pada penurunan pemesanan internasional. Asosiasi Hotel Confindustria Alberghi melaporkan penurunan bersih pemesanan, dengan 62% operator menyebut permintaan dari luar Uni Eropa melemah dan pembatalan meningkat. Segmen yang paling terkena adalah kota-kota seni dan pasar mewah: 67% hotel bintang lima dan 65% hotel bintang empat melaporkan lonjakan pembatalan dari tamu non-Eropa.
Di Venesia, 93% perusahaan yang disurvei menyatakan pembatalan terkait pelanggan non-Uni Eropa. Roma menyusul dengan 80% dan Milan 76%. Pasar yang paling terdampak dilaporkan berasal dari Timur Tengah dan Asia, dengan Tiongkok dan Jepang menonjol.
Pekan lalu, Menteri Pariwisata Italia Daniela Santanchè mengumpulkan asosiasi industri pariwisata untuk membahas solusi. Federturismo menilai ketidakstabilan ini bukan lagi keadaan darurat sementara, melainkan persoalan serius yang memerlukan perangkat manajemen struktural.
Tekanan biaya juga meningkat cepat. Bahan bakar pesawat—yang dapat mencakup hingga seperempat total biaya operasional maskapai—dilaporkan telah berlipat ganda di Eropa dibanding sebelum konflik, dan naik hampir 80% di Asia. Direktur Jenderal IATA Willie Walsh menyatakan kenaikan harga “tidak dapat dihindari” dan telah terjadi di sejumlah pasar, terutama Amerika Serikat. Blokade Selat Hormuz disebut memperburuk prospek.
Dalam pertemuan puncak tahunan maskapai Eropa di Brussels, para CEO menyampaikan kekhawatiran. CEO Ryanair Michael O’Leary menyebut semakin lama situasi berlarut, semakin suram kondisinya. Sementara CEO easyJet Kenton Jarvis mendorong penumpang memesan jauh-jauh hari untuk menghindari kenaikan harga.
Perusahaan perjalanan Uvet di Italia mencatat perjalanan udara antarbenua turun 26% dalam dua minggu pertama Maret. Di saat bersamaan, studi Oxford Economics memperkirakan hampir 28 juta perjalanan ke luar negeri dari Timur Tengah berisiko dibatalkan tahun ini, dengan Eropa menanggung 60% dari kerugian tersebut. Turki, Prancis, dan Inggris dinilai sangat rentan karena kerap menjadi tujuan utama wisatawan Timur Tengah.
Meski demikian, pergeseran pola perjalanan mulai terlihat. Sejumlah maskapai melaporkan kenaikan permintaan pada rute tertentu. Ryanair mencatat lonjakan pemesanan ke destinasi Eropa. Lufthansa melaporkan peningkatan 75% pada pemesanan yang dilakukan 12 bulan sebelumnya untuk rute langsung ke Asia. British Airways menambah lebih dari 3.300 kursi pada rute London–Bangkok dan London–Singapura. Qantas mengalihkan penumpang menuju Eropa melalui Johannesburg dan kota-kota besar di Asia.
Oxford Economics memperkirakan destinasi seperti Spanyol, Portugal, Yunani, dan Italia dapat diuntungkan oleh “regionalisasi” arus perjalanan, yakni kecenderungan memilih rute lebih pendek. Mesir, Maroko, dan Tunisia juga muncul sebagai alternatif yang dinilai sesuai secara budaya bagi wisatawan Timur Tengah.
Namun, ketidakpastian tetap menjadi faktor kunci. Jika konflik berlanjut, pembebanan biaya tambahan ke harga tiket dipandang tak terelakkan. Bagi banyak wisatawan, perjalanan yang semula direncanakan sebagai liburan sekali seumur hidup berubah menjadi beban finansial. Sementara bagi industri pariwisata global, skala kerugian jangka panjang masih belum sepenuhnya terlihat.

