Pasar beras global menghadapi tekanan baru seiring konflik di Timur Tengah dan fenomena cuaca El Niño dinilai mengancam rantai pasokan. Situasi ini muncul meski Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan produksi beras dunia pada musim 2025-2026 dapat mencapai rekor tertinggi. Sejumlah ahli tetap mengingatkan potensi penurunan produksi akibat naiknya biaya input dan kondisi pertanian yang kurang mendukung.
Beras memiliki peran penting dalam ketahanan pangan global. Gangguan pasokan, sekecil apa pun, dapat memicu efek berantai, terutama bagi negara-negara konsumen yang sensitif terhadap harga di Asia dan Afrika. Konflik di Timur Tengah disebut telah mengganggu aliran bahan bakar dan pupuk melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar internasional.
Dampak gangguan tersebut dirasakan hingga ke negara-negara pengekspor utama dan merembet ke negara yang bergantung pada impor. Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, memperkirakan pasokan global akan semakin ketat pada paruh kedua tahun ini dan awal tahun depan, seiring petani mengurangi penggunaan input karena harga yang meningkat.
Di Thailand, kenaikan biaya produksi mendorong perubahan praktik budidaya. Di Provinsi Chai Nat, harga pupuk dilaporkan naik dari 850 baht menjadi 1.000–1.200 baht per karung. Kondisi itu membuat banyak petani kecil mengurangi pemakaian pupuk hingga setengahnya, yang pada akhirnya menekan hasil panen padi.
Filipina sebagai pengimpor beras terbesar di dunia juga menghadapi ketidakpastian. Arze Glipo, CEO Dana Pembangunan Pedesaan Terpadu, memperkirakan produksi Filipina bisa turun hingga 6 juta ton dibandingkan kondisi normal 19–20 juta ton. Upaya menutup kekurangan lewat impor dinilai tidak mudah karena negara-negara pengekspor masih menerapkan pembatasan.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik memperkirakan luas panen padi pada Maret hingga Mei berkurang 10,6% menjadi 3,85 juta hektare. Produksi beras mentah diproyeksikan turun 11,12% atau setara 20,68 juta ton, yang dikaitkan dengan dampak El Niño berupa kekeringan.
Tekanan pasar tidak hanya datang dari produksi, tetapi juga dari distribusi. Seorang pedagang di Singapura yang tergabung dalam kelompok perdagangan beras global menyebut logistik di Asia kian sulit karena kekurangan kemasan plastik PP, keterbatasan kapasitas truk untuk mengangkut barang ke pelabuhan, serta gangguan transportasi maritim.
Meski demikian, pasar masih ditopang oleh cadangan beras global yang relatif besar. India sebagai eksportir terbesar disebut memiliki sekitar 42 juta ton beras dalam cadangan, hampir seperlima dari stok global menurut data Departemen Pertanian AS. Namun, para ahli mengingatkan penyangga ini belum tentu bertahan lama. Harga sebagian besar jenis beras diperkirakan cenderung naik dalam waktu dekat, bahkan jika ketegangan geopolitik mereda.