Demonstrasi pro-Palestina berlanjut di berbagai negara Eropa pada akhir pekan lalu, meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah tercapai namun dinilai masih rapuh. Gelombang aksi ini menjadi salah satu dampak dari kekerasan terbaru di Timur Tengah yang memunculkan perpecahan di antara negara-negara anggota Uni Eropa (UE) serta meningkatkan kekhawatiran akan ketegangan dan potensi kerusuhan di dalam negeri.
Aksi di Prancis dan kota-kota Eropa lain
Di Prancis, ribuan orang turun ke jalan pada Sabtu, termasuk di Paris dan sejumlah kota lainnya. Aksi serupa juga berlangsung di beberapa ibu kota Eropa sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan Palestina.
Di Place de la Republique, Paris, massa meneriakkan slogan seperti “Palestina akan menang” dan “Israel, pembunuh”. Seruan itu mencerminkan kemarahan atas bentrokan terbaru antara Israel dan Hamas, yang dilaporkan sebagian besar menewaskan warga Palestina.
Perpecahan politik di dalam negeri
Eric Conquerel, anggota parlemen dari partai sayap kiri France Unbowed yang turut hadir dalam demonstrasi di Paris, menyatakan rasa malu terhadap pemerintah Prancis karena dinilai bersikap lunak terhadap Israel. Pernyataan itu menggambarkan perpecahan politik yang lebih luas: banyak pendukung aliran kiri di Prancis cenderung bersimpati kepada Palestina, sementara pendukung aliran kanan lebih mendukung Israel.
Respons Uni Eropa dinilai tidak solid
Prancis, satu-satunya anggota tetap UE di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada pekan lalu bekerja sama dengan Mesir dan Yordania untuk mendorong gencatan senjata. Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas akhirnya tercapai pada Jumat.
Namun, sejumlah analis menilai UE secara keseluruhan tersisih dalam lonjakan kekerasan terbaru ini, salah satunya karena respons yang terpecah. Negara seperti Jerman, Hongaria, dan Austria disebut sangat mendukung Israel. Sementara itu, Belgia, Luksemburg, dan Swedia dinilai lebih kritis. Meski demikian, beberapa analis juga mencatat adanya kecenderungan pro-Israel yang jelas di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Prancis bantah UE kehilangan pengaruh
Dalam wawancara dengan media Prancis pada Minggu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian membantah anggapan bahwa UE kurang berpengaruh. Ia menyerukan kebijakan “langkah-langkah kecil” untuk mencegah kekerasan Israel–Palestina kembali berulang.
Kekhawatiran meluas ke situasi domestik
Dinamika internal masing-masing negara juga turut membentuk respons Eropa yang tidak seragam. Negara-negara dengan populasi Muslim dan Yahudi yang besar disebut khawatir ketegangan di Timur Tengah dapat merembet ke dalam negeri.

