Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel disebut telah memasuki pekan ketiga pada 28 Februari 2026. Ketua Umum ICMI Muda MPW Sulsel, Muhammad Tang, menilai eskalasi ini tidak lagi dapat dipahami semata sebagai perang regional, melainkan peristiwa geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah tatanan global.
Menurutnya, konflik tersebut perlu dibaca bukan hanya dari sisi politik dan militer, tetapi juga melalui dimensi kemanusiaan, moral, dan peradaban. Ia menilai perang yang berlangsung menjadi gambaran kegagalan dunia modern dalam mengedepankan dialog sebagai jalur utama penyelesaian konflik.
Dalam keterangannya, Muhammad Tang menyebut serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang diklaim menewaskan pemimpin tertinggi Iran, memicu siklus balas dendam yang sulit dihentikan. Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah strategis, yang dinilai memperluas eskalasi ke tingkat yang lebih berbahaya.
Ia juga menyoroti bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada medan tempur konvensional. Perang, menurutnya, telah merambah ke ruang digital, ekonomi, dan psikologis, termasuk melalui propaganda, disinformasi, serta perebutan narasi yang menjadi bagian dari strategi masing-masing pihak.
Dari sisi kemanusiaan, ia menyebut situasi kian memprihatinkan karena korban sipil terus berjatuhan, infrastruktur hancur, dan jutaan orang hidup dalam ketakutan. Ia mengaitkan hal itu dengan prinsip menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) sebagai salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah), sehingga segala bentuk kekerasan yang mengancam kehidupan manusia dinilai perlu menjadi perhatian serius umat Islam dan komunitas internasional.
Muhammad Tang juga menilai Indonesia tidak seharusnya bersikap apatis. Ia menyebut Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia untuk menjadi suara moral dalam mendorong perdamaian global. Ia menekankan pentingnya diplomasi, baik melalui pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil seperti ICMI, untuk mendorong dialog dan rekonsiliasi.
Selain dampak politik dan kemanusiaan, ia menilai konflik ini menegaskan kerentanan ekonomi global akibat ketergantungan pada energi. Ketegangan di Selat Hormuz, yang disebut sebagai jalur vital distribusi minyak dunia, dinilai menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi global saat konflik geopolitik terjadi. Ia menyebut situasi ini semestinya menjadi momentum bagi negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Ia turut menekankan peran generasi muda Muslim untuk memperkuat literasi geopolitik dan kesadaran global. Menurutnya, generasi muda tidak cukup menjadi penonton, melainkan perlu menawarkan solusi berbasis nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian.
Dalam konteks peran organisasi, ia menyatakan ICMI Muda memiliki tanggung jawab mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak dalam polarisasi dan propaganda. Ia mendorong pendekatan ilmiah, kritis, dan berimbang dalam memahami konflik, seraya menilai dunia membutuhkan lebih banyak suara yang menyejukkan.
Di akhir pernyataannya, Muhammad Tang menyebut konflik Iran–AS–Israel sebagai cermin krisis moral global. Ia menilai ketika kekuatan militer lebih diutamakan daripada dialog, dampaknya adalah kehancuran. Karena itu, ia menyerukan agar upaya perdamaian terus didorong, solidaritas kemanusiaan diperkuat, dan nilai-nilai keadilan dijadikan landasan membangun masa depan yang lebih baik.

