WASHINGTON—Memanasnya konflik Iran–Israel menempatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada situasi yang digambarkan sebagai persimpangan paling berbahaya dalam karier politiknya. Di tengah eskalasi yang berlangsung, Trump disebut dihadapkan pada dua opsi yang sama-sama berisiko: menanggung konsekuensi politik besar di dalam negeri atau membiarkan Israel memperluas perang regional yang dampaknya berpotensi mengguncang ekonomi dan stabilitas global.
Dalam dinamika tersebut, setiap keputusan Trump dinilai berisiko memicu krisis karena posisi Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel membuat ruang geraknya semakin sempit. Disebutkan bahwa Trump disebut ingin mengurangi kerugian dan mengakhiri perang terkait Iran, namun langkah itu dinilai terhambat oleh sikap Israel.
Peluang deeskalasi juga dianggap kecil selama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menghadapi tekanan politik domestik, sementara konflik dengan Iran terus menjadi instrumen konsolidasi keamanan nasional Israel.
Situasi disebut semakin memburuk setelah terbunuhnya komandan Pasukan Radwan Hizbullah di Beirut. Peristiwa itu dipandang sebagai sinyal bahwa konflik di Lebanon berpotensi melebar. Eskalasi terhadap Hizbullah dinilai dapat berdampak langsung pada stabilitas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Tekanan terhadap Trump tidak hanya datang dari luar negeri. Kondisi ekonomi Amerika Serikat disebut mulai menunjukkan tanda pelemahan, sementara polarisasi politik domestik semakin tajam. Sejumlah analis hubungan internasional dari kubu realis, termasuk akademisi Amerika John Mearsheimer, menilai Trump membutuhkan langkah “spektakuler” untuk mengakhiri konflik Iran–Israel tanpa terlihat melemah di hadapan Israel maupun lobi pro-Israel di Washington.
Dalam perkembangan yang disorot, Trump sempat mendeklarasikan kampanye militer baru yang disebut Proyek Kebebasan. Mearsheimer bahkan menyatakan kemungkinan penggunaan bom nuklir taktis di lokasi yang diduga sebagai fasilitas nuklir Iran yang telah diserang. Namun, arah kebijakan Trump disebut kembali berubah drastis ketika ia dengan cepat menghentikan Proyek Kebebasan dan menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata meski disebut Iran menembaki kapal-kapal angkatan laut AS.
Dalam pernyataan berikutnya, Trump mengatakan publik akan mengetahui kapan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir, dengan menyebut akan ada “one big glow over Iran”. Ucapan tersebut dinilai sensitif mengingat sejarah tragedi Hiroshima dan Nagasaki.
Penggunaan kekuatan militer ekstrem terhadap Iran dipandang tidak hanya berpotensi menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar, tetapi juga memicu efek berantai di kawasan Teluk, termasuk terhadap Turki, Pakistan, serta jalur ekonomi global yang bergantung pada stabilitas Timur Tengah.
Disebutkan pula bahwa sekalipun konflik diselesaikan dengan senjata nuklir, harga energi dinilai tidak akan kembali ke tingkat yang rendah. Pada saat yang sama, gangguan logistik pasokan global disebut sedang terjadi, sementara risiko resesi global digambarkan bukan lagi sekadar hipotesis. Bahkan, penggunaan perangkat taktis kecil di Iran disebut berisiko memicu kerugian lebih besar akibat gejolak pasar ekstrem di berbagai belahan dunia.