Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali menguat setelah kampanye media Saudi yang menargetkan Abu Dhabi disebut semakin agresif. Perseteruan ini dinilai sebagai salah satu yang terburuk di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir dan dikhawatirkan berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk pusat keuangan Timur Tengah.
Menurut laporan AFP, eskalasi terjadi setelah konflik singkat di Yaman, ketika serangan udara Saudi menghentikan ofensif kelompok separatis yang didukung UEA. Sejak itu, tudingan keras terkait pelanggaran hak hingga “pengkhianatan” ramai beredar melalui media pemerintah maupun media sosial.
Media pemerintah Saudi, Al-Ekhbariya TV, menuding UEA ikut memperkeruh konflik regional. Dalam laporan pekan ini, Al-Ekhbariya menuduh UEA “berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung kelompok separatis” dari Libya hingga Yaman serta Tanduk Afrika.
Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai gesekan lama kini terbuka secara tidak biasa. Ia mengatakan, dalam kondisi normal, monarki Teluk berupaya menampilkan citra damai dan stabil, tetapi kali ini titik-titik gesekan yang sudah lama ada muncul ke publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jacobs juga menyebut saling serang di media sosial mengingatkan pada keretakan Teluk sebelumnya, dengan Riyadh menyorot kebijakan regional Abu Dhabi tanpa tanda-tanda mereda.
Sementara itu, Abu Dhabi cenderung memilih diam. Profesor ilmu politik UEA, Abdulkhaleq Abdulla, mengatakan negaranya tidak ingin memancing konflik. Ia menyebut UEA tidak memiliki kebiasaan memprovokasi “kakak besar” mereka dan menegaskan pihaknya tidak ingin memprovokasi Arab Saudi.
Dari pihak Saudi, analis Soliman Al-Okaily menyebut ada kekecewaan mendalam terhadap UEA. Menurutnya, terdapat perasaan di Saudi bahwa UEA telah mengkhianati kemitraan strategis dan memicu krisis di dalam lingkup pengaruh strategis Saudi.
Media Saudi juga mengisyaratkan kemungkinan langkah balasan. Buletin Al-Ekhbariya pekan ini menyatakan bahwa jika Abu Dhabi menghasut melawan Arab Saudi, kerajaan tidak akan ragu mengambil langkah dan tindakan yang diperlukan. Meski kecil kemungkinan hubungan kedua negara putus, Al-Okaily memperingatkan Riyadh bisa mengambil tekanan ekonomi. Ia menyebut Arab Saudi dapat menempuh langkah-langkah ekonomi yang menyakitkan.
Di tengah meningkatnya tensi, manuver diplomatik kedua negara turut bergerak cepat. UEA bertemu India untuk mendorong kemitraan pertahanan strategis, sementara Arab Saudi menandatangani perjanjian pertahanan dengan Pakistan, rival India yang memiliki senjata nuklir.
Pekan ini, presiden UEA bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi dan sepakat bekerja menuju kemitraan pertahanan strategis. Pertemuan itu terjadi setelah Riyadh meneken perjanjian pertahanan dengan Pakistan.
Analis New America, Adam Baron, menilai konflik ini belum mengarah pada pecah total meski tensinya tinggi. Ia mengatakan, meski serangan publik berlangsung ganas, masih ada jarak sebelum benar-benar terjadi perpecahan total. Baron menilai situasi ini sekaligus menjadi sinyal mengenai potensi menahan diri, namun juga menunjukkan kapasitas untuk eskalasi.

