Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempromosikan secara langsung keragaman destinasi unggulan dan produk pariwisata Indonesia kepada pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika melalui kegiatan Mega Familiarization Trip (Mega Famtrip). Program ini berlangsung pada 9–17 Oktober 2025 dengan rangkaian kunjungan ke Lombok, Bandung, Labuan Bajo, Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda strategis untuk menjaga daya saing Indonesia dan memperkuat posisi sebagai destinasi pilihan di wilayah sasaran. Menurutnya, pengalaman langsung diperlukan agar mitra industri di negara asal wisatawan, seperti travel agent dan tour operator, dapat menyusun paket wisata Indonesia yang sesuai dengan karakter serta preferensi pasar masing-masing.
Dalam Mega Famtrip ini, Kemenpar mengusung kampanye #GoBeyondOrdinary untuk memperkenalkan pengalaman wisata melalui produk-produk unggulan yang disebut baru dan segar, dengan menonjolkan keunikan budaya, keindahan alam, serta pengalaman wisata berbasis aktivitas (experiential).
Program Mega Famtrip juga menyoroti sejumlah produk wisata unggulan, antara lain gastronomi Indonesia, wellness tourism yang mengedepankan kebugaran berbasis kearifan lokal, serta marine tourism yang menampilkan pesona bahari dan bawah laut.
Kemenpar menyebut kegiatan ini dijalankan dengan pendekatan pemasaran kolaboratif melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk KBRI dan KJRI di luar negeri, industri perhotelan, biro perjalanan wisata, restoran, atraksi wisata, maskapai penerbangan, serta event organizer. Sebanyak 46 mitra industri pariwisata Indonesia terlibat untuk menampilkan produk unggulan kepada peserta.
Total 35 tour operator dari berbagai negara di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika mengikuti famtrip ini. Mereka dibagi ke dalam lima grup perjalanan yang mengunjungi destinasi berbeda sesuai preferensi pasar asal, yakni Lombok, Bandung, Labuan Bajo, Yogyakarta, serta rute Surabaya–Malang.
Dalam penyediaan land arrangement, 11 mitra industri pariwisata Indonesia berkolaborasi, di antaranya A&T Holidays (Lombok), Bhara Tours (Bandung), Zada Liveaboard dan NTT DMC (Labuan Bajo), Amerta Tour & Travel (Yogyakarta), Asia Bespoke (Jawa Timur), serta Tria Uma, LH Travel, Werkudara, DMC White Tiger, dan Abindo Holidays (Bali).
Pelaksanaan Mega Famtrip turut difasilitasi sejumlah properti perhotelan, termasuk jaringan Marriott Bonvoy, Accor Group, Plataran Indonesia, serta sejumlah hotel lain seperti Vasa Hotel Surabaya, Royal Avila Hotel, Sun Island Bali, IniVie Hospitality, The 1O1 Yogyakarta (Malioboro & Tugu), Double Six Seminyak Bali, Montigo Resorts Seminyak, The Meru Sanur, Ayana Komodo Waecicu Beach, dan Jambuluwuk (Yogyakarta & Batu).
Untuk memperkenalkan keragaman produk pariwisata, Kemenpar juga bekerja sama dengan perusahaan atraksi wisata dan restoran, antara lain InJourney Destination Management, ITDC Sirkuit Mandalika, White Rock Beach Club by Robina Group, Bali Safari and Marine Park, BMR Watersport Bali, Hatten Wines, GWK Cultural Park, Aneecha Yacht, Black Stone Yacht Club, dan Jawa Timur Park 2.
Dari sisi transportasi, Kemenpar bermitra dengan Qatar Airways untuk penyediaan sebagian tiket internasional peserta, sementara Garuda Indonesia mendukung keseluruhan pelaksanaan kegiatan.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kemenpar, Raden Wisnu Sindutrisno, menyampaikan rangkaian Mega Famtrip diawali dengan partisipasi peserta dalam Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2025 di NICE, Pantai Indah Kapuk (PIK). Menurutnya, WITF menjadi pintu awal bagi peserta untuk mengenal potensi pariwisata Indonesia sekaligus membangun jejaring dengan pelaku industri.
Selama WITF 2025, peserta mengikuti agenda seperti sesi business matching yang mempertemukan pembeli internasional dengan penjual dari Indonesia untuk menjajaki kerja sama bisnis, serta industry gathering melalui Networking Dinner sebagai ruang pertukaran ide dan pengalaman.
Salah satu rangkaian perjalanan yang disorot adalah grup Lombok yang berasal dari Riyadh dan Oman. Mereka memulai perjalanan dari Jakarta menuju Lombok dengan mengunjungi destinasi budaya dan bahari, seperti Lingsar Cultural Site dan Islamic Center NTB, kemudian melakukan island hopping ke Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pada hari terakhir, peserta mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan mencoba pengalaman berkendara di Sirkuit Mandalika.

