Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) mendorong peningkatan kerja sama bilateral Indonesia dan Belanda di bidang kemanusiaan serta ikatan sejarah, khususnya terkait peristiwa pertempuran di Selat Sunda pada 1942.
Pelaksana Tugas Asisten Deputi Koordinasi Kerja Sama Amerika dan Eropa Kemenko Polkam, Nur Rokhmah Hidayah, menyatakan kerja sama kemanusiaan dan sejarah perang merupakan bagian dari kerja sama strategis di bidang politik dan keamanan. Menurutnya, Pemerintah Indonesia memandang penting kerja sama tersebut mengingat sensitivitas isu serta latar belakang sejarah panjang hubungan kedua negara.
“Pemerintah Indonesia tentunya menyambut baik permintaan Pemerintah Belanda terkait kerja sama sejarah perang tahun 1942. Hubungan bilateral kedua negara menjadi dasar kuat dalam menyikapi isu ini secara konstruktif,” ujar Nur Rokhmah pada Kamis (7/8/2025).
Nur Rokhmah juga menyampaikan Kemenko Polkam siap memimpin proses identifikasi dan penelusuran sebagai bentuk kerja sama konkret kedua negara di bidang kemanusiaan, sejarah, dan budaya.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Eropa I Kementerian Luar Negeri RI, Widya Sadnovic. Ia menyebut inisiatif tersebut dapat menjadi sarana memperkuat kemitraan politik dan keamanan melalui pendekatan sejarah.
“Kami di Kemlu menyambut baik permintaan Pemerintah Belanda untuk melakukan identifikasi terhadap prajurit mereka yang tewas tahun 1942 dan disinyalir dimakamkan di wilayah Lampung Selatan. Ini menyangkut isu kemanusiaan, sejarah perang, dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” kata Widya.
Salah satu bentuk kerja sama yang dibahas adalah dukungan teknis dalam proses identifikasi dua prajurit tersebut yang memerlukan pendekatan ilmiah. Dalam pertemuan itu, Dinas Pemulihan dan Identifikasi Angkatan Darat Kerajaan Belanda (BIDKL) menyampaikan keinginan untuk bermitra dengan institusi Indonesia yang relevan.
Menanggapi hal tersebut, Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri menyatakan kesiapan mendukung aspek ilmiah kerja sama, termasuk melalui identifikasi DNA apabila diperlukan dalam konteks historis atau arkeologis.
“Kami di Pusdokkes Polri siap memberikan dukungan teknis guna mendukung pengungkapan data berbasis ilmiah,” ujar Kombes Pol. dr. Wahju Hidajati.

