BERITA TERKINI
Kemenkeu: Ekonomi Indonesia Tahan Gejolak Global, Pertumbuhan Kuartal I 2026 Diproyeksi 5,5%

Kemenkeu: Ekonomi Indonesia Tahan Gejolak Global, Pertumbuhan Kuartal I 2026 Diproyeksi 5,5%

Perkembangan perekonomian Indonesia hingga awal 2026 dinilai menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi dunia. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi dan memperlambat aktivitas ekonomi global.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, mengatakan hingga akhir Maret 2026 ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik telah memicu kenaikan harga energi dan berdampak pada aktivitas perekonomian dunia.

Menurut Deni, pemerintah menjaga APBN sebagai peredam gejolak. Sementara itu, sektor manufaktur disebut masih bertahan di zona ekspansi baik secara global maupun domestik, yang menunjukkan roda ekonomi tetap berjalan meski melambat.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain. Deni menyebut hal itu tercermin dari kinerja eksternal yang tetap solid, termasuk surplus neraca perdagangan yang berlanjut serta ekspor yang tetap terjaga.

Ia menambahkan, ketahanan tersebut juga terlihat dari peningkatan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal. Kondisi ini mengindikasikan aktivitas produksi dan investasi domestik masih ekspansif.

Memasuki kuartal pertama 2026, fondasi ekonomi domestik dinilai tetap solid dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 diproyeksikan mencapai 5,5%, didukung konsumsi rumah tangga yang kuat, percepatan investasi, serta peran sektor manufaktur berbasis hilirisasi.

Di sisi lain, inflasi tercatat tetap terkendali pada level 3,48% meski bersifat temporer, sementara stabilitas sektor keuangan disebut terjaga. Pemerintah juga terus mengoptimalkan kebijakan fiskal dan menjaga stabilitas pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), untuk mempertahankan kepercayaan investor.

Dengan koordinasi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, APBN 2026 diyakini tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah dinamika global.