BERITA TERKINI
Kembalinya Trump Picu Kekhawatiran Eropa atas Masa Depan NATO dan Dorong Gagasan Koalisi Baru

Kembalinya Trump Picu Kekhawatiran Eropa atas Masa Depan NATO dan Dorong Gagasan Koalisi Baru

Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih setelah memenangkan pemilu Amerika Serikat pada November 2024 mendorong para pemimpin Eropa menilai ulang kerentanan keamanan dan ekonomi benua itu. Banyak pihak di Eropa menilai pengalaman pada masa jabatan pertama Trump menjadi sinyal bahwa periode kedua dapat membawa tekanan yang lebih besar, di tengah kondisi internal Eropa yang juga sedang rapuh.

Sejumlah masalah memperberat posisi Eropa. Prancis dan Jerman digambarkan tengah menghadapi kesulitan politik dan ekonomi, Uni Eropa (UE) tertinggal dari China dan Amerika Serikat dalam daya saing, sementara di Inggris layanan publik disebut berada dalam kondisi memprihatinkan. Kekhawatiran yang semula berupa antisipasi kini dinilai mulai menjadi kenyataan seiring munculnya kembali retorika keras Trump terhadap sekutu tradisional.

Dalam pandangan sejumlah pengamat, Trump cenderung memandang hubungan luar negeri secara transaksional. Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel menilai Trump tidak percaya pada kemitraan yang saling menguntungkan dan melihat dunia melalui kategori “pemenang” dan “pecundang”. Merkel juga menyebut Trump meyakini Eropa telah memanfaatkan AS selama bertahun-tahun dan hal itu harus dihentikan.

Sikap Trump juga kembali memunculkan kekhawatiran soal masa depan NATO. Ia pernah mengumbar kemungkinan meninggalkan aliansi tersebut dan menyatakan akan “mendorong” Rusia melakukan “apa pun yang mereka inginkan” terhadap sekutu Eropa bila negara-negara itu “tidak membayar” lebih banyak melalui peningkatan belanja pertahanan. Di Eropa, pernyataan semacam ini memperkuat perdebatan tentang seberapa jauh benua tersebut dapat bertumpu pada payung keamanan AS.

Di bidang perdagangan, Trump disebut masih menunjukkan kemarahan terhadap UE karena ketidakseimbangan perdagangan, dengan UE menjual lebih banyak ke AS dibandingkan impor dari AS. Disebutkan bahwa pada Januari 2022 surplus perdagangan mencapai €15,4 miliar. Trump mengusulkan tarif menyeluruh 10–20% untuk semua impor asing, dengan tarif lebih tinggi pada barang tertentu seperti mobil. Skenario ini dinilai berisiko besar bagi Jerman yang bergantung pada ekspor, terutama industri otomotif, sementara ekonominya sudah melemah dan disebut menyusut 0,2% pada tahun sebelumnya.

Merkel juga menyinggung adanya kesan dendam Trump terhadap Jerman. Ian Bond dari Pusat Reformasi Eropa menilai Jerman berpotensi tetap menjadi salah satu target utama Trump di Eropa. Ia mencontohkan pernyataan Trump di masa lalu yang tidak ingin melihat Mercedes-Benz di jalanan New York, meski Bond menyebut banyak kendaraan merek tersebut di AS dibuat di Alabama. Sementara itu, Inggris berharap dapat menghindari tarif karena tidak memiliki ketidakseimbangan perdagangan dengan AS, namun tetap berisiko terdampak jika terjadi perang dagang UE–AS.

Ketidakpastian menjadi persoalan utama bagi Eropa: mana yang sekadar gertakan dan mana yang akan diwujudkan dalam kebijakan konkret. Ian Lesser dari German Marshall Fund menilai ancaman tarif itu nyata dan menyebut Eropa “jauh dari siap”. Ia juga mengingatkan dampak besar dapat muncul bila AS melancarkan perang dagang agresif terhadap China, karena dapat mengganggu rantai pasokan Eropa dan mendorong masuknya lebih banyak produk murah China ke pasar Eropa, yang berpotensi merugikan bisnis lokal.

Kompleksitas hubungan itu bertambah karena isu perdagangan dan pertahanan kerap saling terkait dalam pendekatan Trump. Ia disebut menolak mengesampingkan tindakan ekonomi dan/atau militer terhadap Denmark—anggota UE dan NATO—bila negara itu tidak menyerahkan Greenland kepada AS. Selain itu, wakil presiden terpilih JD Vance memperingatkan AS dapat menarik dukungan terhadap NATO jika UE melanjutkan penyelidikan terhadap platform X milik Elon Musk.

Musk sendiri disebut menunjukkan keinginan memihak dalam politik Eropa, termasuk melalui serangan daring terhadap pemimpin Inggris Sir Keir Starmer dan Kanselir Jerman Olaf Scholz, serta pernyataan bahwa partai anti-migrasi ekstrem AfD adalah “satu-satunya harapan” Jerman. Meski demikian, disebutkan jajak pendapat menunjukkan unggahan kontroversial Musk hanya sedikit memengaruhi opini publik Eropa, sementara Trump dan Musk tidak dipercaya di Eropa.

Di tengah situasi itu, para pemimpin Eropa menempuh pendekatan berbeda untuk menghadapi Trump. Presiden Prancis Emmanuel Macron termasuk yang cepat memberi selamat kepada Trump setelah pemilihan dan mengundangnya menghadiri pembukaan kembali Katedral Notre Dame di Paris. Inggris, di sisi lain, disebut memahami ketertarikan Trump pada Skotlandia—asal ibunya—serta kedekatannya dengan Keluarga Kerajaan Inggris.

Ada pula pendekatan yang menekankan negosiasi ekonomi. Kepala Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menyarankan penggunaan “strategi buku cek”, yakni bernegosiasi dengan Trump ketimbang membalas tarif. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga berbicara tentang kemungkinan membeli lebih banyak gas alam cair (LNG) dari AS sebagai bagian dari diversifikasi energi Eropa setelah mengurangi ketergantungan pada gas Rusia pasca invasi besar-besaran ke Ukraina. Disebutkan pula adanya pembahasan kemungkinan pembelian lebih banyak produk pertanian dan senjata AS.

Sejalan dengan itu, Macron kembali mendorong gagasan “otonomi strategis” agar Eropa lebih mandiri. Ia memperingatkan bahwa nasib Eropa bergantung pada pilihan benua itu sendiri. Menurut Macron, pandemi Covid-19 menunjukkan ketergantungan Eropa pada impor China, sementara perang Ukraina menyingkap ketergantungan berlebihan pada energi Rusia. Kini, ia menilai Eropa juga perlu memperhitungkan prioritas AS yang menempatkan “AS pertama” dan fokus pada isu China, sementara isu Eropa bukan prioritas geopolitik utama untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam ranah pertahanan, dorongan agar Eropa meningkatkan belanja pertahanan secara umum diterima, meski besaran dan mekanisme penggunaannya masih diperdebatkan. Di Eropa, diskusi berkembang pada bagaimana membelanjakan anggaran pertahanan secara lebih efisien dan terpadu. Macron menginginkan kebijakan industri pertahanan di seluruh UE dan menilai perang di Ukraina menunjukkan fragmentasi Eropa sebagai kelemahan, termasuk ketidakserasian standar persenjataan.

Para pemimpin UE juga mengundang Inggris—salah satu dari dua kekuatan militer besar Eropa—ke pertemuan puncak informal untuk membahas kerja sama keamanan dan pertahanan. Kepala pertahanan UE Kaja Kallas menekankan pentingnya persatuan tujuan, dengan menyatakan bahwa Eropa perlu bertindak secara bersatu agar kuat dan dianggap serius di panggung dunia.

Sejumlah analis menilai Eropa kini lebih lemah dan terpecah dibanding saat Trump pertama kali terpilih pada 2016, terutama karena pertumbuhan ekonomi yang lamban dan instabilitas politik. Kebangkitan partai euroskeptis nasionalis-populis di berbagai negara turut menambah tantangan, dengan sebagian pihak bersikap lunak terhadap Moskow. Namun, ada pula catatan bahwa Eropa pernah mengalami perpecahan besar pada masa krisis migran 2015 dan guncangan Brexit, dan UE tetap bertahan melewati Brexit, pandemi, krisis migrasi, serta masa jabatan pertama Trump.

Hubungan UE dan Inggris pasca-Brexit kini juga digambarkan lebih pragmatis, dengan Inggris dipandang sebagai sekutu dekat yang memiliki nilai-nilai serupa dalam menghadapi tantangan dari China, Rusia, dan presiden AS yang dinilai tidak dapat diprediksi. Sementara itu, NATO disebut mendapat dorongan militer dan geostrategis setelah Swedia serta Finlandia—tetangga Rusia—bergabung pasca invasi besar-besaran Kremlin ke Ukraina.

Di sisi lain, ada kemungkinan Trump kali ini melihat lebih sedikit hal yang membuatnya frustrasi terhadap Eropa, mengingat Eropa kini lebih menerima kebutuhan meningkatkan belanja pertahanan, lebih waspada terhadap China, dan lanskap politiknya lebih condong ke kanan. Namun, pertanyaan besarnya tetap: apakah Eropa akan menentang bila merasa Trump melampaui batas, termasuk dalam isu hak asasi manusia, kebebasan berbicara, atau kedekatan dengan para pemimpin otoriter.