Permintaan tenaga pilot diperkirakan meningkat tajam dalam satu dekade ke depan seiring pertumbuhan lalu lintas udara global dan peremajaan armada penerbangan. Proyeksi ini mencerminkan kebutuhan industri untuk mendukung ekspansi sekaligus menggantikan pilot yang memasuki masa pensiun.
Menurut CAE Aviation Talent Forecast yang dikutip dari Gulf News, hingga 2034 dunia diperkirakan membutuhkan sekitar 300.000 pilot baru. Laporan tersebut mencakup kebutuhan pada penerbangan komersial dan bisnis, serta menyoroti tekanan pasar tenaga kerja di sektor aviasi.
Dalam rincian proyeksi CAE, porsi terbesar kebutuhan datang dari penerbangan komersial. CAE memperkirakan sebanyak 267.000 pilot komersial diperlukan secara global pada periode 2024–2034, dengan wilayah Asia-Pasifik menjadi sorotan karena mencatat pertumbuhan pesat dalam jumlah perjalanan udara.
Sementara itu, sektor penerbangan bisnis diproyeksikan membutuhkan sekitar 33.000 pilot. Kebutuhan ini disebut terkait dengan upaya mengganti aviator yang pensiun sekaligus menjaga pertumbuhan sektor tersebut.
Sejumlah proyeksi lain turut menggambarkan besarnya tekanan pasokan pilot. Statista, misalnya, memperkirakan defisit sekitar 50.000 pilot pada 2025 akibat pemulihan permintaan pascapandemi, tingginya tingkat pensiun, serta ekspansi jumlah pesawat. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga 2027 dan seterusnya.
CAE juga merangkum proyeksi industri lain, termasuk outlook Boeing yang mengindikasikan kebutuhan hingga 660.000 pilot baru di seluruh dunia pada periode 2025–2044. Pada saat yang sama, jumlah pilot aktif global diperkirakan meningkat dari sekitar 382.000 orang pada 2025 menjadi 520.000 pada 2034, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 3,5 persen per tahun.
Laporan tersebut mengidentifikasi beberapa faktor utama yang mendorong lonjakan kebutuhan pilot. Pertama, gelombang pensiun karena sebagian besar angkatan kerja pilot saat ini mendekati usia pensiun wajib, yakni 65 tahun. Kedua, pertumbuhan industri penerbangan yang tercermin dari proyeksi peningkatan jumlah pesawat komersial global dari sekitar 25.900 unit pada 2019 menjadi 47.080 unit pada 2041. Ketiga, keterbatasan kapasitas pelatihan pilot serta tertundanya banyak calon pilot akibat pandemi dalam beberapa tahun terakhir, yang memperlambat masuknya tenaga baru yang memenuhi syarat.
Di luar penerbangan tradisional, perkembangan teknologi juga dinilai dapat menambah kebutuhan pilot. CAE menyebut kemunculan segmen baru seperti air taxi berbasis teknologi eVTOL (electric vertical take-off and landing) berpotensi mendorong permintaan tenaga pilot. Dengan masuknya teknologi ini hingga pertengahan 2030-an, kebutuhan pilot pada segmen urban air mobility disebut bisa mencapai puluhan ribu orang, bergantung pada skenario adopsinya.
Sebagai contoh, estimasi dari firma akuntansi KPMG menyebut kebutuhan sekitar 19.000 pilot untuk memenuhi permintaan air taxi hingga 2030. Sementara proyeksi yang lebih optimistis menempatkan kebutuhan hingga 60.000 pilot pada periode yang sama.

