BERITA TERKINI
Kanselir Jerman Nilai Target Ukraina Gabung Uni Eropa pada 2027 Tidak Realistis

Kanselir Jerman Nilai Target Ukraina Gabung Uni Eropa pada 2027 Tidak Realistis

Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai target bergabungnya Ukraina ke Uni Eropa (UE) pada 1 Januari 2027 tidak mungkin dicapai. Merz menegaskan proses aksesi UE merupakan tahapan panjang yang harus dilalui semua negara calon anggota, termasuk Ukraina, dengan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Dalam konferensi pers di Berlin, Merz mengatakan Jerman telah menyampaikan kepada Amerika Serikat bahwa target tersebut tidak realistis. Ia menekankan bahwa setiap negara yang ingin bergabung dengan UE harus memenuhi Kriteria Kopenhagen.

Pernyataan Merz muncul setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menetapkan 2027 sebagai target masuknya Ukraina ke dalam UE. Zelensky menyebut aksesi ke UE sebagai salah satu jaminan keamanan utama, bukan hanya bagi Ukraina, tetapi juga bagi Eropa. Ia menyatakan Ukraina mengandalkan dukungan para mitra untuk mewujudkan target tersebut.

Kriteria Kopenhagen yang ditetapkan pada 1993 memuat syarat politik, ekonomi, dan legislasi yang harus dipenuhi negara calon anggota. Menurut Merz, kriteria itu mencakup keberadaan lembaga demokrasi yang stabil, ekonomi pasar yang berfungsi, serta kemampuan beradaptasi dengan hukum Uni Eropa. Ia menambahkan, proses aksesi biasanya memakan waktu beberapa tahun.

Merz juga menilai prioritas Ukraina saat ini seharusnya berfokus pada perundingan dengan Amerika Serikat dan Rusia di Abu Dhabi. Ia menyampaikan optimisme secara hati-hati mengenai peluang tercapainya kesepakatan, seiring diskusi yang dilakukan Rusia dan Ukraina pada Jumat dan Sabtu terkait opsi penyelesaian damai dengan mediasi AS.

Ukraina mengajukan permohonan keanggotaan UE tidak lama setelah perang dengan Rusia dimulai pada 2022. Pada tahun yang sama, Ukraina memperoleh status kandidat UE dan disebut telah menyelesaikan proses penyaringan legislatif tahun lalu. Kyiv juga mendorong jalur cepat aksesi di tengah perundingan damai yang berlangsung dengan Moskow, dengan alasan keanggotaan UE penting untuk pemulihan dan keamanan pascaperang.

Meski Brussel memuji kemajuan reformasi Ukraina, pembukaan kelompok aksesi masih terhambat. Disebutkan, proses tersebut tetap diblokir oleh Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, yang secara luas dipandang sebagai pemimpin UE yang paling ramah terhadap Kremlin.