BERITA TERKINI
Jerman Peringatkan Dampak Pemotongan Gas Rusia: Risiko Bencana bagi Industri dan Rumah Tangga

Jerman Peringatkan Dampak Pemotongan Gas Rusia: Risiko Bencana bagi Industri dan Rumah Tangga

Invasi Rusia ke Ukraina memicu gelombang sanksi dari Eropa dan sejumlah negara lain, termasuk di bidang ekonomi. Dalam situasi tersebut, Jerman memperingatkan konsekuensi serius jika pasokan gas dari Rusia terus dipangkas atau tidak lagi diterima.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck menyatakan pemotongan pasokan gas dapat memaksa Jerman mengambil keputusan yang berdampak buruk bagi ekonomi dan masyarakat. Ia menekankan bahwa ketika pasokan gas tidak mencukupi, pembangkit yang sangat bergantung pada bahan bakar tersebut bisa terpaksa berhenti beroperasi.

“Ini benar-benar bencana bagi beberapa industri,” kata Habeck dalam wawancara dengan Der Spiegel. Ia juga memperingatkan dampaknya tidak hanya berlangsung singkat. “Ini tidak akan berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu, tetapi untuk jangka waktu yang lama,” ujarnya.

Menurut Habeck, kondisi itu berpotensi memicu hilangnya lapangan kerja dan melemahkan basis industri di sejumlah wilayah. “Kami berbicara tentang orang-orang, yang akan kehilangan pekerjaan dan beberapa daerah akan kehilangan seluruh kompleks industri mereka,” katanya.

Habeck menilai pemotongan pasokan gas dari Rusia menempatkan Jerman pada risiko kerawanan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengingat industri serta puluhan juta rumah tangga di negara itu sangat bergantung pada bahan bakar impor.

“Jika situasi ini terus berlanjut, Jerman akan dipaksa untuk membuat keputusan yang sulit bagi masyarakat. Tidak ada keputusan yang baik, hanya keputusan yang selalu salah,” kata Habeck.

Ia pun meminta masyarakat bersatu menghadapi situasi sulit, tetap mendukung sanksi anti-Rusia, serta bersiap menanggung dampak sampai batas tertentu.

Sebelumnya, pada 23 Juni 2022, Jerman menaikkan tingkat siaga krisis energi dari “peringatan dini” menjadi “waspada”. Jika status itu naik ke tingkat ketiga atau “mendesak”, Jerman harus memprioritaskan alokasi gas untuk rumah tangga dibanding industri, yang berpotensi membuat skala industri menyusut tajam.

“Tujuan kami bukan untuk membuat siapa pun kesusahan karena kekurangan energi,” kata Habeck. Namun ia memperingatkan musim dingin akan menjadi periode yang sulit, dengan kemungkinan perusahaan menghentikan produksi, meningkatnya pengangguran, dan bertambahnya jumlah orang miskin.

Pekan sebelumnya, aliran gas dari Rusia melalui pipa Nord Stream 1 ke Jerman dilaporkan dipotong hingga 60%. Kementerian Ekonomi Jerman menyatakan, dalam situasi saat ini, negara tersebut kecil kemungkinan dapat menuntaskan rencana pengisian 90% cadangan gas pada awal Desember.