Seorang pejabat tinggi militer Jerman memperingatkan bahwa Rusia memiliki kapasitas untuk melancarkan serangan terbatas terhadap wilayah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kapan saja, meski Moskow masih terlibat dalam perang di Ukraina. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang berlanjut antara Rusia dan NATO sejak perang Ukraina.
Letnan Jenderal Alexander Sollfrank, yang memimpin komando operasi gabungan Jerman dan mengawasi perencanaan pertahanan, menyatakan kemampuan tempur Rusia saat ini dinilai masih memadai untuk melakukan tindakan tersebut. Berbicara dari markasnya di Berlin utara, Sollfrank menekankan adanya dua skenario ancaman dari Rusia, yakni dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Menurut Sollfrank, jika dilihat dari kemampuan dan kekuatan tempur Rusia saat ini, Moskow dapat melancarkan serangan skala kecil terhadap wilayah NATO dalam waktu sangat dekat. Ia juga menilai Rusia memiliki cukup tank tempur utama untuk melakukan serangan terbatas yang dapat dipertimbangkan sewaktu-waktu. Namun, ia menegaskan serangan semacam itu akan bersifat kecil, cepat, terbatas secara regional, dan tidak berskala besar.
Dalam skenario jangka panjang, Sollfrank menggemakan peringatan NATO bahwa Rusia berpotensi melancarkan serangan skala besar terhadap aliansi yang kini beranggotakan 32 negara paling cepat pada 2029, jika upaya persenjataan Moskow terus berlanjut.
Sollfrank mengatakan keputusan Rusia untuk menyerang NATO akan ditentukan oleh tiga faktor, yakni kekuatan militer Rusia, rekam jejak militernya, dan kepemimpinan. Ia menyimpulkan bahwa serangan Rusia berada dalam ranah kemungkinan, meski terjadinya atau tidak dinilai sangat bergantung pada perilaku dan langkah pencegahan NATO.
Ia juga menyoroti taktik perang hibrida Rusia, termasuk insiden intrusi drone baru-baru ini ke wilayah udara Polandia, yang menurutnya perlu dipandang sebagai bagian dari strategi yang saling terhubung dengan perang di Ukraina. Sollfrank menyebut pendekatan itu sebagai perang “non-linear” dalam doktrin Rusia, yang dipahami sebagai fase sebelum penggunaan senjata konvensional, termasuk ancaman penggunaan senjata nuklir yang ia nilai sebagai bentuk intimidasi.
Menurutnya, tujuan Rusia adalah memprovokasi NATO dan mengukur respons aliansi, sekaligus meningkatkan rasa tidak aman, menyebarkan ketakutan, menyebabkan kerusakan, melakukan spionase, serta menguji ketahanan NATO.
Peringatan tersebut muncul ketika Jerman meningkatkan postur pertahanannya. Pada awal tahun ini, Berlin melonggarkan rem utang konstitusional untuk memenuhi target pengeluaran militer inti NATO sebesar 3,5% dari output nasional pada 2029. Jerman juga berencana menambah 60.000 personel militer, sehingga total angkatan bersenjata menjadi sekitar 260.000.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali membantah adanya niat agresif. Ia menyatakan invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022 merupakan langkah pertahanan terhadap apa yang disebutnya sebagai ambisi ekspansionis NATO.

