Jamie Murray menilai pihak pengambil keputusan di Australia Terbuka telah mengakomodasi keinginan Jannik Sinner dalam penjadwalan pertandingan putaran keempat melawan Luciano Darderi. Sinner, unggulan kedua sekaligus juara bertahan, akan menghadapi rekan senegaranya dari Italia yang menjadi unggulan ke-22 untuk memperebutkan tiket ke perempat final Grand Slam pertama pada 2026.
Dalam jadwal yang dirilis, Sinner tidak ditempatkan di Rod Laver Arena, melainkan dipindahkan ke Margaret Court Arena yang berkapasitas lebih kecil. Ini menjadi penampilan pertamanya di lapangan pertunjukan terbesar kedua di Melbourne Park sejak 2024, ketika ia mengalahkan Karen Khachanov di babak keempat. Sejak saat itu, Sinner tercatat memainkan sembilan pertandingan beruntun di Rod Laver Arena yang berkapasitas 14.820 penonton.
Murray, juara Grand Slam nomor ganda dan saudara dari Andy Murray, mengaku terkejut dengan keputusan tersebut, namun merasa memahami alasan di baliknya. Ia mengatakan kepada TNT Sports bahwa Sinner dan timnya diduga tidak ingin bermain pada siang hari dan meminta jadwal malam. Namun, menurut Murray, mereka juga tidak ingin mendapatkan slot pertandingan malam kedua karena ketidakpastian waktu mulai pertandingan.
“Ya, saya terkejut, tapi saya rasa saya tahu mengapa ini terjadi. Saya pikir mereka, dia dan timnya, tidak ingin dia bermain di siang hari dan meminta untuk bermain di malam hari,” kata Murray. “Dia juga tidak ingin memainkan pertandingan malam kedua karena siapa yang tahu kapan dia mungkin siap. Saya pikir dia mencoba untuk mendapatkan kuenya dan memakannya juga dan itulah mengapa dia ada di Margaret Court.”
Tim Henman yang berada di samping Murray menyebut Sinner “beruntung”. Henman mengatakan para pemain dan pelatih bisa mengajukan permintaan, tetapi pada akhirnya keputusan ada pada ofisial dan pihak turnamen. Setelah Murray menyela dengan tertawa dan mengatakan Henman boleh setuju, Henman menegaskan ia sepakat, sambil menggambarkan kompleksitas permintaan penjadwalan pada tahap turnamen seperti ini.
Henman menilai situasi menjadi sulit ketika banyak pihak menginginkan lapangan atau waktu tertentu. Ia menyebut keputusan akhir berada pada wasit, direktur turnamen, serta manajer umum Craig Tiley. Menurutnya, Sinner diakomodasi dan mendapatkan jadwal yang menguntungkan, termasuk saat pertandingan sebelumnya ketika atap ditutup di tengah kondisi fisik Sinner yang bermasalah.
Sebelumnya, saat Sinner menang empat set atas Eliot Spizzirri, suhu tercatat mencapai 38 derajat Celcius. Sinner sempat terlihat kesakitan akibat kram, lalu berjalan tertatih-tatih ke kotak pemain untuk membahas kondisinya. Ia kemudian kehilangan servis dan tertinggal 3-1 sebelum atap ditutup sesuai kebijakan panas ekstrem Australia Terbuka.
Setelah permainan dilanjutkan, Sinner tampil lebih baik. Ia mematahkan servis Spizzirri dua kali dan memenangkan set tersebut, sebelum akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan yang ia sebut diraih dengan susah payah. Usai laga, Sinner mengakui penutupan atap membantunya.
“Saya beruntung dengan peraturan panas dan penutupan atap. Saya meluangkan waktu dan seiring berjalannya waktu saya merasa lebih baik dan lebih baik,” kata Sinner.
Sementara itu, Spizzirri mengatakan ia sempat tersenyum ketika kebijakan panas mulai berlaku. Ia menilai hal tersebut bukan berarti “menyelamatkan” Sinner, namun mengakui situasinya menjadi tantangan tersendiri dalam pertandingan.
“Saya tersenyum kecil ketika peraturan panas mulai berlaku. Saya tidak akan mengatakan itu menyelamatkannya. Dia pemain yang terlalu bagus untuk mengatakan itu, tetapi pada saat yang sama itu adalah tantangan waktu dan itulah sifat dari olahraga ini,” ujar Spizzirri.

