Rusia disebut mengirimkan sejumlah besar petugas intelijen, diplomat, dan agen yang sebelumnya dinyatakan sebagai persona non grata di Eropa ke negara-negara Afrika. Informasi itu termuat dalam laporan tahunan 2026 Dinas Intelijen Luar Negeri Estonia (EFIA).
Dalam laporan tersebut, EFIA menilai langkah pengalihan personel ke Afrika tidak hanya memperkuat kehadiran Rusia di benua itu, tetapi juga menjadi cara Moskow mengatasi tantangan kepegawaian di dalam negeri. Selama satu dekade terakhir, negara-negara Barat telah mengusir ratusan diplomat Rusia dan menutup sejumlah konsulat, menyusul kebijakan yang disebut agresif serta aktivitas spionase Moskow. Dengan mempererat hubungan dengan negara-negara Afrika, Kremlin dinilai memperoleh ruang untuk menempatkan pegawai negeri yang tidak lagi dapat bekerja di Uni Eropa.
Di luar kerja sama militer, EFIA menyebut Rusia turut memperluas pengaruh melalui instrumen “kekuatan lunak” lewat program pendidikan dan budaya. Laporan itu menyoroti badan federal Rossotrudnichestvo—yang disebut memainkan peran penting dalam operasi pengaruh negara—telah memperluas jaringan kantor di Afrika, termasuk membuka cabang baru di Guinea dan Burkina Faso.
Selain itu, Yayasan Russkiy Mir yang berfokus mempromosikan bahasa Rusia di luar negeri dilaporkan membuka pusat baru di Burundi dan Uganda. Menurut EFIA, melalui struktur-struktur tersebut Moskow menyebarkan narasi anti-Barat dengan menggambarkan kebijakan Barat sebagai “neokolonial dan paternalistik.” Pada saat yang sama, Rusia memposisikan diri sebagai “juara tatanan dunia multipolar” dan “pembela kedaulatan,” serta menawarkan kerja sama yang dikemas sebagai kemitraan setara.
Laporan EFIA juga menyoroti dugaan penggunaan mahasiswa Afrika dalam perang melawan Ukraina. Berdasarkan data EFIA, pada 2025 sekitar 35.000 mahasiswa Afrika belajar di universitas-universitas Rusia. Otoritas Rusia dilaporkan memanfaatkan kondisi keuangan mereka yang sulit dengan menawarkan pilihan antara deportasi atau menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.
Akibatnya, menurut dinas intelijen Estonia, ratusan warga negara dari Zambia, Tanzania, Guinea, Kamerun, Eritrea, Nigeria, dan negara-negara lain dikirim untuk berperang melawan Ukraina.

