Kenaikan harga bahan baku mulai menekan industri popok nasional. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memperkirakan harga popok di pasaran berpotensi naik dalam waktu dekat, dengan kisaran kenaikan sekitar 20 hingga 30 persen.
Tekanan tersebut dipicu lonjakan biaya bahan baku yang disebut mencapai 100 persen. APKI menilai situasi ini berkaitan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Direktur Komite Diapers APKI, Oto Gunasis, mengatakan ketidakpastian pasokan bahan baku dapat berdampak serius jika tidak segera diatasi. “Perubahan harga bahan baku yang sangat cepat membuat perhitungan biaya produksi menjadi tidak stabil. Industri perlu melakukan penyesuaian secara realistis dan terukur agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam,” ujar Oto Gunasis, dikutip Sabtu (2/5).
Menurut Oto, dalam satu hingga dua bulan ke depan, apabila pasokan bahan baku belum membaik, ketersediaan popok di pasar berisiko terganggu. Ia menjelaskan lonjakan harga bahan baku berawal dari kenaikan harga minyak mentah dunia, yang kemudian mendorong naik bahan petrokimia seperti nafta dan polypropylene—material yang digunakan dalam produksi popok.
Selain semakin mahal, pasokan bahan baku juga dinilai makin terbatas. Kombinasi kenaikan harga dan keterbatasan pasokan tersebut membuat produsen berada dalam posisi sulit, sehingga penyesuaian harga mulai dilakukan.
Namun, APKI menilai kenaikan harga belum tentu cukup untuk menahan tekanan industri apabila krisis bahan baku berlanjut. “Tekanan biaya berpotensi mendorong penyesuaian harga jual diapers di pasar, yang pada akhirnya dapat berdampak pada daya beli masyarakat,” kata Oto.
APKI juga mengingatkan risiko lanjutan berupa gangguan produksi. Dalam kondisi terburuk, industri tidak menutup kemungkinan terjadinya penghentian operasional pabrik hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Untuk meredam dampak yang lebih luas, APKI mendesak pemerintah segera mengambil langkah, termasuk mempermudah perizinan serta memastikan kelancaran impor bahan baku agar distribusi tidak terhambat. Koordinasi antar-kementerian juga dinilai penting untuk mencegah kebijakan yang justru menambah ketidakpastian di sektor industri.
Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, pelaku industri khawatir dampaknya dapat meluas, mulai dari kelangkaan produk di pasar hingga potensi gelombang PHK di sektor manufaktur. Di sisi lain, masyarakat diminta bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga popok seiring tekanan global yang belum mereda.