BERITA TERKINI
Industri Panel Surya India Tumbuh Pesat, Namun Dibayangi Risiko Kelebihan Kapasitas dan Persaingan Global

Industri Panel Surya India Tumbuh Pesat, Namun Dibayangi Risiko Kelebihan Kapasitas dan Persaingan Global

Persaingan menuju energi hijau kian intens, dan India bergerak cepat memperkuat industri panel surya di dalam negeri. Lonjakan permintaan listrik serta upaya mengurangi ketergantungan pada China mendorong produksi panel fotovoltaik meningkat tajam, menciptakan pasar yang berkembang pesat namun menyisakan sejumlah ketidakpastian.

Di pabrik Adani Group di Mundra, negara bagian Gujarat, jalur perakitan beroperasi tanpa henti. Hingga 10.000 panel per hari dikirim dari fasilitas itu, sebagian besar langsung menuju Khavda di utara, lokasi proyek yang disebut akan menjadi taman surya terbesar di dunia.

Meski demikian, CEO Adani Solar Muralee Krishnan menilai operasi perusahaan belum maksimal. Ia mengatakan kapasitas pabrik perlu dimanfaatkan sepenuhnya, bahkan menyebut kebutuhan untuk bekerja “48 jam sehari” guna mengejar target.

Intensitas serupa terlihat di pabrik milik konglomerat Tata di Tirunelveli, Tamil Nadu. Sekitar 4.000 karyawan—sebagian besar perempuan—bekerja sepanjang waktu. CEO Tata Power Praveer Sinha menyebut pola operasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, meningkatkan hasil, efisiensi, dan produktivitas, karena jalur produksi tidak bisa dihentikan.

Di tingkat kebijakan, India menetapkan target energi terbarukan yang ambisius untuk memenuhi kebutuhan pembangunan sekaligus menekan emisi karbon. Tahun lalu, India menyatakan setengah dari kapasitas pembangkit listriknya kini “hijau”, lima tahun lebih cepat dari tenggat waktu yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Namun bauran energi India masih didominasi batu bara. Sekitar 75% listrik masih dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga batu bara, yang dinilai kurang fleksibel. Selain itu, perjanjian pembelian listrik batu bara jangka panjang disebut menghambat peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. Menurut Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih, produksi listrik dari batu bara turun 3% tahun lalu, menjadi penurunan tahunan kedua dalam setengah dekade.

Kapasitas energi terbarukan India yang kini sekitar 230 gigawatt (GW) diperkirakan meningkat menjadi 500 GW pada 2030, termasuk 280 GW dari energi surya. Di saat bersamaan, Perdana Menteri Narendra Modi juga menekankan kebijakan “Buat di India” untuk industri ini.

Kebijakan tersebut membuat impor panel surya dari China—yang memasok sekitar 90% pasar dunia—tidak menjadi pilihan dalam tender publik, karena persyaratan produksi “lokal”. India mendukung strategi itu dengan subsidi besar, yang menarik perusahaan-perusahaan besar seperti Tata, Adani, dan Reliance membangun pabrik yang lebih canggih dan berotomatisasi tinggi.

CEO Adani Green Energy Ashish Khanna menekankan pentingnya kualitas produk dan kepastian rantai pasokan, terutama untuk proyek-proyek berskala besar. Meski demikian, pada tahap saat ini teknologi dan bahan baku masih berasal dari China. Beijing juga telah menyampaikan keluhan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait subsidi dan pembatasan terhadap panel surya mereka.

Dorongan ekspansi yang kuat memunculkan upaya pengamanan bahan baku. Menurut sumber internal perusahaan, Adani mempertimbangkan penambangan silikon untuk memastikan pasokan bahan utama. Sementara itu, terdapat dugaan Tata Power mengincar produksi wafer silikon secara internal.

Di sisi pasar, pertumbuhan manufaktur surya India dinilai sangat cepat. Perusahaan konsultan Wood Mackenzie memperkirakan kapasitas manufaktur surya India segera melampaui 125 GW. Namun angka itu disebut sekitar tiga kali lipat dari permintaan domestik saat ini, menurut analis Wood Mackenzie Yana Hryshko.

Hryshko menilai insentif pemerintah efektif mendorong pengumuman pembangunan pabrik, tetapi industri mulai menghadapi tanda peringatan terkait kelebihan kapasitas yang cepat. Karena itu, keberlanjutan jangka panjang sektor ini dinilai bisa bergantung pada ekspor, dan sejumlah perusahaan mulai menargetkan pasar global.

Ashish Khanna, yang juga memimpin Aliansi Surya Internasional, menyebut pasar energi surya dunia sangat besar dan diperkirakan berlipat ganda dari 2.000 GW menjadi 4.000 GW dalam empat tahun. Namun ia mempertanyakan apakah produsen India mampu bersaing secara global melawan China.

Tejpreet Chopra dari perusahaan listrik swasta Bharat Light and Power menyoroti persoalan biaya, dengan menyatakan impor dari China lebih murah dibanding membeli produk lokal. Ia juga menilai tingkat manufaktur China jauh lebih tinggi sehingga sulit ditandingi. Selain itu, Chopra menyebut hambatan “geopolitik” seperti tarif dari Presiden AS Donald Trump membuat penjualan ke Amerika Serikat menjadi “sangat sulit”.

Meski tantangan itu ada, Tata Power menyatakan tetap optimistis. Praveer Sinha mengatakan perusahaannya sangat yakin energi surya akan memainkan peran yang sangat penting dalam sektor energi terbarukan di India.