Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan prospek ekonomi global dapat memburuk secara signifikan apabila konflik Iran berlanjut hingga 2027, terutama jika harga minyak bertahan di kisaran 125 dolar AS per barel.
Pernyataan itu disampaikan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, dalam acara Milken Institute di Washington pada Senin (4/5/2026). Ia mengatakan, apabila situasi tersebut terjadi, dunia harus bersiap menghadapi hasil ekonomi yang “jauh lebih buruk.”
Menurut Georgieva, skenario konflik berkepanjangan dengan harga minyak tinggi berpotensi mendorong inflasi meningkat dan membuat ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Pada awal April, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dan melakukan pembicaraan di Islamabad, namun perundingan tersebut berakhir tanpa hasil.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu bagi Iran dalam menyusun “proposal terpadu.” Meski demikian, eskalasi konflik disebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Di sisi lain, pada Senin (4/5), Trump menyatakan mulai melihat harga energi turun dan memperkirakan harga akan merosot signifikan setelah perang berakhir.