Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Asia perlu meningkatkan integrasi dan perdagangan intra-regional untuk memperkuat daya tahan kawasan menghadapi guncangan eksternal. Direktur Departemen Asia-Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, mengatakan penguatan kerja sama regional dapat menjadi “penyangga” penting untuk membantu Asia mengurangi dampak gejolak dari luar kawasan.
Menurut Srinivasan, peningkatan perdagangan antarnegara di Asia saja sudah dapat membantu menurunkan risiko sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Namun, IMF mencatat perdagangan intra-regional di Asia belum mencapai potensi penuhnya, meski kawasan ini memiliki sejumlah ekonomi besar seperti Tiongkok, Jepang, dan India.
IMF melaporkan sekitar 60% barang setengah jadi di kawasan ini diproduksi di Asia, tetapi hanya sekitar 30% barang jadi yang dikonsumsi di dalam kawasan. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan yang masih besar pada pasar eksternal, seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Di Asia Tenggara, khususnya di kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), perdagangan intra-regional juga dinilai masih terbatas, terutama untuk barang jadi. IMF menyatakan pengurangan hambatan non-tarif—seperti peraturan, prosedur, atau kebijakan yang membatasi perdagangan—dapat memberi manfaat besar melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Selain tantangan perdagangan, IMF menyoroti meningkatnya risiko gangguan pasokan energi yang dikaitkan dengan ketegangan di Iran. Asia dinilai sangat rentan karena ketergantungannya yang besar pada impor bahan bakar dari Timur Tengah.
Saat ini, Asia mengimpor hampir 60% minyak mentahnya dari Timur Tengah, dengan sebagian besar pengiriman melewati Selat Hormuz. IMF juga mencatat konsumsi minyak dan gas di kawasan ini mencapai sekitar 4% dari produk domestik bruto (PDB), hampir dua kali lipat dibandingkan Eropa. Sementara itu, impor energi bersih setara dengan sekitar 2,5% dari PDB.
IMF memperingatkan bahwa guncangan pasokan energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan melemahkan neraca pembayaran. Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Asia diperkirakan bisa turun 1 hingga 2 poin persentase pada 2027, sementara inflasi dapat meningkat lagi sebesar 1 hingga 4 poin persentase.
Risiko tersebut dinilai dapat membesar apabila ketegangan terus berlanjut, terutama karena belum ada kerangka waktu yang jelas untuk kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Negara atau ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi diperkirakan akan merasakan dampak lebih berat, mulai dari perlambatan pertumbuhan, kehilangan pekerjaan, hingga terganggunya produksi industri.
Untuk merespons tekanan tersebut, IMF merekomendasikan agar pemerintah mengadopsi langkah-langkah dukungan yang tepat sasaran, bukan subsidi yang meluas. Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk memanfaatkan sumber daya yang terbatas dan memfokuskan bantuan kepada kelompok yang paling terdampak.
Meski menghadapi berbagai risiko, IMF menilai Asia memasuki fase ini dengan fondasi yang relatif kokoh, termasuk inflasi yang rendah dan pertumbuhan yang stabil. Namun, prospek tersebut dapat berubah apabila guncangan berlangsung lebih lama dari perkiraan.