Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode April hingga Mei 2026 dinilai mencerminkan tekanan terhadap struktur ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai koreksi IHSG dari level 7.700 ke bawah 7.000, disertai pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS, tidak bisa dipandang semata sebagai fluktuasi teknikal. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa investor mulai mempertanyakan ketahanan fundamental ekonomi nasional.
“Saat ini pasar tengah mengirim pesan jika fondasi ekonomi Indonesia masih rapuh. Dengan penguatan IHSG yang semula lebih dominan ditopang arus modal jangka pendek dan sentimen likuiditas global, bukan berarti menguatnya struktural ekonomi,” kata Kusfiardi dalam keterangannya, Senin, 11 Mei 2026.
Ia menyebut data perdagangan menunjukkan IHSG sempat menyentuh level 7.675 pada pertengahan April 2026, sebelum terkoreksi tajam hingga ditutup pada level 6.956 pada akhir bulan. Pada 8 Mei 2026, IHSG kembali turun signifikan sebesar 2,86 persen dalam satu hari perdagangan.
Di sisi nilai tukar, Kusfiardi menyatakan rupiah bergerak melemah dari kisaran Rp16.900 per dolar AS pada awal April menjadi di atas Rp17.300 pada awal Mei 2026.
Menurutnya, perkembangan tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas ekonomi Indonesia terhadap penguatan dolar AS, arus keluar modal asing (capital outflow), serta perubahan sentimen global terhadap negara berkembang. Ia menilai Indonesia masih dipersepsikan bergantung pada komoditas, impor bahan baku, dan pembiayaan berbasis dolar.
“Pada saat dolar AS mengalami penguatan dan risiko global meningkat, tekanan langsung muncul di pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujarnya.
Kusfiardi menambahkan, pelemahan rupiah dapat berdampak luas karena Indonesia masih bergantung pada impor energi, bahan baku industri, dan kebutuhan strategis lainnya. Ia menilai depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi, memicu tekanan inflasi, menambah beban subsidi energi, dan menekan daya beli masyarakat.
“Level rupiah di atas Rp17.000 bukan lagi sekadar isu moneter, tetapi sudah menjadi persoalan ekonomi politik karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga pangan, BBM, dan biaya hidup,” katanya.
Ia juga menyoroti adanya kontradiksi antara pertumbuhan ekonomi nasional yang disebut masih relatif positif dengan meningkatnya tekanan di pasar keuangan. Menurutnya, pasar mulai meragukan kualitas pertumbuhan yang dinilai masih bertumpu pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas mentah.
“Pasar melihat pertumbuhan Indonesia belum cukup ditopang industrialisasi yang kuat dan produktivitas sektor riil yang dalam. Karena itu volatilitas pasar menjadi tinggi dan mudah dipengaruhi sentimen eksternal,” ujarnya.
Kusfiardi menilai situasi ini perlu menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mempercepat transformasi struktural ekonomi, termasuk memperkuat industri domestik, mengurangi ketergantungan impor strategis, memperdalam pasar keuangan nasional, serta menekan ketergantungan pada pembiayaan asing jangka pendek.
“Jika struktur ekonomi tidak berubah, maka gejolak IHSG dan pelemahan rupiah akan terus menjadi alarm rutin bahwa ekonomi Indonesia masih rentan terhadap tekanan global,” kata Kusfiardi.