BERITA TERKINI
Bank Mandiri Nilai Ekonomi Global Kian Tidak Menentu, Risiko Geopolitik Tekan Pasar Emerging

Bank Mandiri Nilai Ekonomi Global Kian Tidak Menentu, Risiko Geopolitik Tekan Pasar Emerging

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai situasi ekonomi global saat ini berada dalam kondisi yang sangat tidak menentu. Ia mengatakan, kompleksitas tantangan yang dihadapi membuat penyusunan skenario ekonomi menjadi yang paling rumit yang pernah dilakukan internal Bank Mandiri Group, karena banyaknya faktor dan variabel yang memengaruhi kinerja perusahaan maupun perekonomian.

Dalam paparannya pada acara Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual dari Jakarta, Senin, Andry menyoroti kondisi global yang masih dibayangi konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang belum menemukan titik temu. Situasi tersebut dinilai berimplikasi pada potensi disrupsi di Selat Hormuz, sehingga risiko pasokan energi tetap tinggi dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Menurutnya, dalam konteks ini sentimen risk-off menguatkan dolar AS dan menekan aset-aset negara berkembang (emerging markets/EM). Sejalan dengan itu, International Monetary Fund (IMF) juga disebut telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026, dengan pertimbangan meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.

Dari sisi kebijakan moneter AS, pasar memproyeksikan suku bunga acuan Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FFR) tidak turun sepanjang tahun ini dan bertahan di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan dominasi kisaran 350–375 basis points (bps) hingga akhir tahun.

Andry menambahkan, arus dana masuk ke pasar negara berkembang berpotensi tertahan dan dapat berubah menjadi arus keluar, seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya penghindaran risiko global. Ia menilai sejumlah risiko yang perlu diwaspadai mencakup disrupsi Selat Hormuz serta eskalasi ketegangan AS–Iran–Lebanon yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan beban fiskal akibat naiknya subsidi energi.

Ia juga menilai kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi, sehingga mengurangi ruang pelonggaran moneter bank sentral negara berkembang, termasuk Bank Indonesia. Selain itu, sentimen risk-off berisiko mendorong depresiasi rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada bursa saham. Risiko lain yang disebutkan adalah meningkatnya suku bunga pasar (market rate) dan terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.

Meski demikian, Andry melihat sejumlah peluang bagi Indonesia dalam situasi tersebut. Indonesia dinilai berpeluang memperoleh windfall komoditas dari ekspor crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel yang mengalami kenaikan harga, sehingga dapat memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.

Selain itu, relokasi rantai pasok global disebut membuka peluang penanaman modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif. Penguatan kebijakan hilirisasi juga dinilai meningkatkan nilai tambah ekspor melalui pergeseran dari bahan mentah ke produk olahan seperti smelter, katoda, dan battery grade.

Andry turut menyinggung bahwa transisi energi global dapat memicu momentum investasi di kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan, di mana Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam ekosistem baterai dan listrik global. Ia menegaskan komitmen transisi energi tetap berjalan konsisten di Indonesia meski di tengah konflik geopolitik.