Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Jawa Barat hingga Maret 2026 tercatat tetap solid di tengah tekanan ekonomi global. Di saat ketidakpastian dipicu perang dagang, konflik geopolitik, serta gangguan distribusi komoditas internasional, APBN regional Jawa Barat membukukan surplus Rp2,45 triliun.
Realisasi pendapatan negara di Jawa Barat mencapai Rp31,67 triliun, sementara belanja negara tercatat Rp29,22 triliun. Kondisi ini dinilai menjadi bantalan bagi perekonomian daerah, terutama pada periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 yang mendorong aktivitas konsumsi.
Kepala Bidang P2Humas Kanwil DJP Jawa Barat II, Eko Radnadi Susetio, menyampaikan bahwa hingga triwulan I 2026 posisi APBN di Jawa Barat masih berada pada jalur positif dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
“Di tengah berbagai ketidakpastian global, perekonomian Jawa Barat masih tetap resilien salah satunya didorong faktor konsumsi pemerintah pada masa Hari Raya Idul Fitri. Kinerja APBN hingga Maret 2026 tercatat masih on track dan membukukan surplus APBN,” ujar Eko dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2026 tercatat 5,79 persen secara tahunan (year on year). Industri pengolahan masih menjadi penopang utama, disusul peningkatan aktivitas perdagangan dan jasa selama Ramadan hingga Lebaran.
Dari sisi penerimaan, sektor perpajakan mengalami kontraksi tipis 3,40 persen secara tahunan. Meski begitu, beberapa sektor mencatat pertumbuhan, antara lain jasa profesional yang tumbuh 46,46 persen, sektor keuangan dan asuransi 25,02 persen, serta perdagangan 16,25 persen.
Selain aspek fiskal, pemerintah pusat juga melanjutkan percepatan program prioritas nasional di Jawa Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut telah menjangkau sekitar 14,5 juta penerima manfaat di 27 kabupaten/kota.
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Maret 2026 tercatat sebesar Rp9,43 triliun kepada 144 ribu debitur. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 11,83 persen terhadap penyaluran KUR nasional. Sementara program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tercatat menjangkau lebih dari 10 ribu penerima manfaat dengan realisasi Rp1,28 triliun.
Di sektor perdagangan luar negeri, Jawa Barat kembali mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD1,98 miliar pada Maret 2026. Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor utama dengan surplus perdagangan mencapai USD1,42 miliar.
Namun, tekanan global disebut masih membayangi. Inflasi Jawa Barat pada April 2026 tercatat 2,49 persen, dengan emas perhiasan, daging ayam ras, dan beras menjadi komoditas penyumbang utama kenaikan harga.
Eko menegaskan pemerintah akan terus memperkuat kualitas belanja negara dan menjaga produktivitas kas negara agar momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan hingga akhir tahun.