BERITA TERKINI
IHSG Menguat 1,22% ke 7.057 di Tengah Ketegangan Global, Ditopang Data Pertumbuhan Ekonomi RI

IHSG Menguat 1,22% ke 7.057 di Tengah Ketegangan Global, Ditopang Data Pertumbuhan Ekonomi RI

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, dengan kenaikan 1,22% ke level 7.057,11. Penguatan ini menempatkan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja menonjol di kawasan Asia pada hari yang sama, ketika sejumlah bursa regional justru bergerak melemah.

Sentimen utama datang dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61%. Angka tersebut dilaporkan melampaui perkiraan sebagian analis yang sebelumnya memperkirakan perlambatan pertumbuhan domestik.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebut IHSG sempat tertekan mengikuti pelemahan indeks global sebelum akhirnya berbalik menguat. “IHSG sempat tertekan akibat pelemahan indeks global, namun kemudian berbalik menguat didorong oleh saham perbankan,” ujarnya.

Dari sisi sektoral, saham-saham barang baku memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 2,92% pada sore hari, disusul sektor keuangan yang naik 2,25%. Saham berkapitalisasi besar seperti BBRI dan BRPT disebut menjadi penggerak utama kenaikan indeks.

Penguatan IHSG terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Dalam pemberitaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan inisiatif bertajuk Project Freedom, sementara situasi di kawasan tersebut diwarnai aksi saling tembak rudal yang sempat memicu kekhawatiran terhadap harga komoditas.

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada inflasi yang dilaporkan berada di level 2,42%. Selain itu, daya beli masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) dinilai turut menopang aktivitas ekonomi.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan pertumbuhan tersebut ditopang aktivitas ekonomi domestik. “Kinerja ini ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik,” kata Amalia dalam konferensi pers.

Aktivitas perdagangan tercatat ramai. Volume transaksi harian mencapai sekitar 43,92 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi Rp23,87 triliun dan frekuensi 2,46 juta kali. Sebanyak 342 saham ditutup menguat, sedangkan 314 saham melemah.

Secara teknikal, indikator Stochastic RSI disebut mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah dari area jenuh jual. Level resisten 7.119 diperkirakan menjadi area yang akan diuji pada perdagangan berikutnya.

Meski demikian, pelaku pasar diingatkan untuk tetap selektif di tengah fluktuasi harga minyak mentah dan dinamika geopolitik. Disiplin manajemen risiko dinilai penting, termasuk mencermati perkembangan cadangan devisa serta arah kebijakan suku bunga global.

Di kawasan, sejumlah indeks Asia seperti Hang Seng dan Straits Times dilaporkan berakhir melemah tipis. Sementara itu, kondisi fiskal Indonesia disebut tetap terkendali, dengan defisit APBN hingga akhir Maret sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB.

Untuk perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, IHSG diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan meski dalam rentang terbatas. Pasar juga akan mencermati rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai salah satu acuan arah kebijakan bank sentral AS.