TEHERAN — Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan agresi Amerika Serikat dan Israel serta serangan balasan Iran telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Pernyataan itu disampaikan IEA dalam laporan pasar terbarunya.
Menurut IEA, produksi minyak mentah saat ini turun sedikitnya delapan juta barel per hari. Selain itu, terdapat tambahan penurunan sekitar dua juta barel per hari yang terkait dengan produk minyak bumi. IEA menyebut pembatasan pasokan regional oleh Iran telah memaksa produsen-produsen di kawasan Teluk memangkas produksinya.
IEA juga melaporkan lalu lintas pengapalan melalui Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar seperlima minyak mentah global—ditutup di tengah serangan dan ancaman Iran yang menargetkan pengiriman di wilayah tersebut.
Arus melalui selat itu kini bergerak kurang dari 10 persen dibandingkan tingkat sebelum krisis. IEA menilai belum terlihat tanda-tanda penurunan eskalasi peperangan maupun batas waktu yang jelas untuk pemulihan arus pelayaran di Selat Hormuz.
Reporter The Associated Press, Inzamam Rashid, menyebut sekitar 1.000 kapal, termasuk sekitar 200 kapal tanker minyak, berbaris menunggu untuk melintasi Selat Hormuz. Ia menggambarkan situasi dalam beberapa hari terakhir menjadi sangat berbahaya ketika Iran meningkatkan serangan.
“Saat ini, kita tahu bahwa Selat Hormuz berada dalam kendali militer Iran, artinya kapal apa pun yang mencoba menyeberang akan menjadi sasaran,” kata Rashid. Ia menambahkan, pihaknya telah melihat bukti berulang kali dalam beberapa hari terakhir.
Rashid mengatakan risiko tersebut membuat volume minyak yang biasanya melintasi selat—sekitar 20 juta barel per hari—turun tajam. Menurutnya, arus itu kini tinggal sekitar 10 persen dari operasi normal, dan bagian tersebut termasuk ekspor minyak Iran ke negara-negara seperti Tiongkok.

