BERITA TERKINI
Harga Minyak Berpotensi Tetap Tinggi Meski Konflik AS-Iran Mereda, Pasokan Global Masih Ketat

Harga Minyak Berpotensi Tetap Tinggi Meski Konflik AS-Iran Mereda, Pasokan Global Masih Ketat

Pasokan minyak global diperkirakan tetap ketat dalam beberapa pekan ke depan, bahkan jika Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Pemulihan distribusi dari kawasan Teluk Timur Tengah dinilai tidak bisa berlangsung instan karena pengiriman membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga kembali normal dan mencapai kilang-kilang di berbagai negara.

Dalam masa transisi tersebut, perusahaan energi diperkirakan masih akan mengandalkan cadangan minyak untuk memenuhi lonjakan permintaan musim panas. Selama konflik berlangsung, pasar ditopang oleh berbagai bantalan sementara, mulai dari stok komersial, minyak yang masih dalam perjalanan, minyak yang disimpan di laut, hingga cadangan darurat.

Namun, para eksekutif perusahaan energi, bank investasi, dan analis pasar menilai dampak penuh gangguan pasokan belum sepenuhnya tercermin pada pasar maupun ekonomi global. Mereka memperkirakan produksi dan ekspor minyak dari Timur Tengah baru kembali ke level sebelum konflik dalam beberapa bulan mendatang.

Situasi itu muncul ketika stok minyak global seharusnya mulai meningkat menjelang puncak konsumsi musim panas di Belahan Bumi Utara. Permintaan energi biasanya naik seiring meningkatnya aktivitas perjalanan, penerbangan, pertanian, serta pengiriman barang.

CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan dunia berpotensi keluar dari konflik dengan tingkat persediaan minyak yang sangat rendah. Ia memperkirakan penarikan stok hidrokarbon global mencapai 10 juta hingga 13 juta barel per hari, sehingga sedikitnya 500 juta barel telah terkuras dari cadangan global. Sebagai perbandingan, total cadangan minyak mentah Amerika Serikat saat ini sekitar 460 juta barel.

Sementara itu, CEO Equinor Anders Opedal memperkirakan pasar membutuhkan setidaknya enam bulan untuk kembali normal, meski perdamaian tercapai di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan harga minyak akan turun cepat setelah konflik berakhir. Harapan pasar terhadap kesepakatan damai sempat menekan harga minyak Brent turun 7,8% menjadi 101,27 dollar AS per barel pada Rabu.

Meski demikian, analis menilai harga minyak fisik dan bensin tidak serta-merta kembali ke level sebelum konflik karena pemulihan pasokan memerlukan waktu. Polling Reuters menunjukkan analis kini memperkirakan harga rata-rata Brent tahun ini mencapai 86,38 dollar AS per barel, naik dari sekitar 62 dollar AS pada Januari.

Permintaan minyak juga diperkirakan tetap tinggi setelah konflik mereda karena banyak negara dan perusahaan akan berupaya membangun kembali cadangan. Australia, misalnya, mengumumkan rencana investasi 7,22 miliar dollar AS untuk memperbesar cadangan bahan bakar setelah mengalami kekurangan pasokan sejak konflik dimulai.

Di Eropa, Komisi Eropa disebut mempertimbangkan revisi aturan kewajiban cadangan minyak minimum 90 hari, termasuk kemungkinan kewajiban khusus untuk bahan bakar jet.

Sejumlah lembaga turut mencatat penyusutan stok global. Goldman Sachs memperkirakan persediaan minyak dunia turun menjadi sekitar 98 hari kebutuhan pada akhir Mei, dari 105 hari pada akhir Februari. Rystad Energy memperkirakan dunia telah kehilangan sekitar 600 juta barel pasokan minyak sejak konflik dimulai.

Jika jalur pelayaran benar-benar pulih pada akhir Mei, total kehilangan pasokan diperkirakan dapat mencapai 1,2 miliar hingga 2 miliar barel, setara 16%–27% stok global sebelum konflik.

Dampak gangguan juga meluas ke gas. Penutupan produksi LNG Qatar dan kerusakan infrastruktur selama konflik dinilai menekan pasokan gas global. Kepala ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti memperkirakan gangguan pasokan LNG mencapai 30 juta–50 juta ton atau sekitar 7%–11% suplai LNG global tahunan.

CEO Exxon Mobil Darren Woods menyatakan pasar belum sepenuhnya merasakan dampak dari gangguan besar pasokan minyak dan gas global tersebut. Dengan pemulihan yang diperkirakan memakan waktu dan kebutuhan pengisian kembali cadangan yang tinggi, tekanan pada harga energi dinilai masih berpotensi bertahan meski konflik mereda.