Harga emas di Kabupaten Aceh Timur dalam dua bulan terakhir bergerak stagnan dan cenderung melemah. Kondisi ini dirasakan pada emas perhiasan maupun logam mulia (LM), yang pergerakannya lebih sering datar dan sesekali mengalami penurunan.
Muliadi, penjual emas di Toko Tiara Idi Rayeuk, mengatakan pergerakan harga emas lokal mengikuti dinamika harga emas dunia. Menurut dia, selama dua bulan terakhir harga emas lebih sering turun, meski pada beberapa hari sempat bertahan di level yang sama sebelum kembali merosot.
“Selama dua bulan ini, harga emas lebih sering turun. Kadang beberapa hari tetap datar, lalu tiba-tiba anjlok saat pasar dibuka,” kata Muliadi. Ia menambahkan, belum terlihat tanda-tanda harga emas akan kembali naik ke level yang lebih tinggi.
Muliadi menilai pelemahan harga emas tidak terlepas dari situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang memperebutkan kendali atas Selat Hormuz. Ketegangan tersebut, kata dia, membuat banyak negara lebih menaruh perhatian pada cadangan energi berupa minyak, sehingga emas dinilai kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai.
“Posisi emas tidak mengalami peningkatan karena perhatian dunia lebih tertuju pada minyak,” ujarnya.
Sementara itu, di pasar global, harga emas spot pada akhir perdagangan kemarin ditutup di level US$ 4.612,5 per troy ons. Pergerakan harga masih menunjukkan pola datar, seiring pasar menilai dampak konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi memicu inflasi global.
Jika ditarik dalam kurun dua bulan terakhir, harga emas tercatat turun sekitar 12 persen.