BERITA TERKINI
Guterres: Dunia Hadapi Masa Genting Usai Berakhirnya Perjanjian New START

Guterres: Dunia Hadapi Masa Genting Usai Berakhirnya Perjanjian New START

NEW YORK, AS – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres memperingatkan dunia sedang memasuki periode paling genting bagi perdamaian dan keamanan internasional setelah berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) antara Amerika Serikat dan Rusia.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 5 Februari 2026, Guterres menekankan bahwa untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak ada lagi batasan hukum yang mengikat terhadap persenjataan nuklir strategis kedua negara tersebut. AS dan Rusia disebut menguasai sebagian besar stok senjata nuklir global.

“Kadaluarsa Perjanjian New START pada tengah malam ini menandai momen genting bagi perdamaian dan keamanan internasional,” ujar Guterres.

Ia menyesalkan berakhirnya capaian pengendalian senjata yang telah dibangun selama puluhan tahun. Menurutnya, situasi ini terjadi pada saat yang tidak menguntungkan karena ketegangan geopolitik sedang meningkat.

“Pembubaran capaian selama puluhan tahun ini tidak bisa datang pada waktu yang lebih buruk — risiko penggunaan senjata nuklir berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade,” ucapnya.

Guterres menyerukan agar Amerika Serikat dan Rusia segera kembali ke meja perundingan tanpa penundaan untuk menyepakati kerangka pengganti. Ia menilai kerangka baru diperlukan untuk memulihkan batasan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, serta memperkuat keamanan bersama.

Meski demikian, ia menyambut baik komitmen kedua negara yang menegaskan pemahaman atas dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir dan urgensi mencegah kembalinya proliferasi nuklir tanpa kendali.

New START mulai berlaku pada 5 Februari 2011 dan menjadi instrumen pengendalian senjata nuklir terakhir antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan hingga 1.550 unit per negara, serta mengatur jumlah peluncur dan pesawat pembom berat.

Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, dunia kini memasuki era tanpa batasan formal atas senjata nuklir strategis AS dan Rusia. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi perlombaan senjata baru di tengah konflik global yang sedang berlangsung.