BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Disebut Berisiko Dongkrak Harga Minyak dan Picu Inflasi di Negara Pengimpor

Penutupan Selat Hormuz Disebut Berisiko Dongkrak Harga Minyak dan Picu Inflasi di Negara Pengimpor

Ekonom Universitas Andalas Prof. Dr. Syafruddin Karimi menilai penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak dunia. Menurutnya, jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global sehingga pasar energi sangat sensitif terhadap gangguan di kawasan itu.

Syafruddin mengatakan, penutupan Selat Hormuz dapat langsung meningkatkan premi risiko energi karena pasar membaca gangguan jalur tersebut sebagai ancaman terhadap pasokan dunia. Ia menekankan bahwa sebagian besar perdagangan minyak laut dunia melintasi selat itu.

Ia merujuk data Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 hingga kuartal I 2025 setara lebih dari seperempat perdagangan minyak laut dunia dan sekitar seperlima konsumsi minyak global.

Syafruddin menjelaskan, ketika perusahaan tanker, pedagang, dan operator pelayaran menahan pengiriman, pasokan tidak serta-merta hilang, tetapi tertahan dalam rantai logistik. Dampaknya, biaya energi naik, ongkos produksi dan distribusi meningkat, dan inflasi berbasis biaya berpotensi menguat di banyak negara pengimpor.

Dalam jangka pendek, ia memperkirakan harga minyak bisa melonjak karena pasar merespons potensi gangguan pasokan. Menurutnya, pergerakan harga terjadi mengikuti probabilitas gangguan, bukan menunggu kelangkaan fisik benar-benar terjadi.

Syafruddin juga menyebut harga minyak berpeluang kembali mendekati kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel apabila gangguan berlangsung signifikan. Sementara dalam jangka menengah, besarnya kenaikan akan dipengaruhi durasi gangguan, kemampuan pengalihan arus pasokan, serta respons produsen utama.

Ia menambahkan, selama biaya asuransi dan risiko keselamatan tetap tinggi, volatilitas diperkirakan bertahan meski sebagian pasokan dapat dialihkan.

Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia di selatan Iran. Penutupan itu disebut sebagai buntut serangan Amerika Serikat dan Zionis Israel yang dikabarkan menewaskan Pimpinan Tinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa Apsides menyatakan informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan. Melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, kapal-kapal dilaporkan dilarang melewati kawasan tersebut.