Miliarder George Soros pada Senin (31/1) menyerukan perubahan rezim di China dengan mendorong penggantian Presiden Xi Jinping. Dalam pernyataannya, Soros juga membandingkan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 dengan Olimpiade 1936 yang berlangsung di Jerman pada era Nazi.
Berbicara dalam sebuah pidato di Hoover Institution, Soros menyebut China sebagai “negara otoriter paling kuat di dunia” dan “ancaman terbesar yang dihadapi masyarakat terbuka saat ini.”
Perbandingan dengan Olimpiade 1936
Soros menilai China, “seperti Jerman pada tahun 1936,” akan berupaya memanfaatkan ajang Olimpiade Musim Dingin Beijing sebagai sebuah tontonan untuk meraih kemenangan propaganda bagi sistem kontrol ketat yang diterapkannya.
Kritik terhadap Xi Jinping
Dalam pidatonya, Soros menyebut Xi sebagai “seorang yang benar-benar percaya pada komunisme,” dan membandingkannya dengan mantan pemimpin China Deng Xiaoping yang memperkenalkan reformasi pasar bebas. Ia juga memperingatkan bahwa “Mao Zedong dan Vladimir Lenin adalah idolanya.”
Seruan perubahan rezim
Di bagian akhir pidato, Soros menyampaikan seruan agar kepemimpinan di China diganti. Ia mengatakan langkah tersebut diperlukan untuk menghilangkan apa yang ia sebut sebagai ancaman terbesar terhadap masyarakat terbuka saat ini, serta mendorong China bergerak ke arah yang diinginkan.
Latar belakang Soros
Soros dikenal sebagai pendiri dan ketua Open Society Foundation. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa yayasan tersebut mendukung berbagai gerakan liberal dan sayap kiri di Amerika Serikat dan di sejumlah negara lain, termasuk Black Lives Matter, Planned Parenthood, serta agenda reformasi imigrasi.
Selain itu, Soros juga disebut menaruh perhatian pada pemilihan jaksa wilayah di Amerika Serikat dengan mengucurkan dana dalam jumlah besar, dan beberapa kandidat yang didukungnya kini menangani penuntutan di kota-kota besar di negara tersebut.

