Perubahan geopolitik global dinilai mulai berdampak pada sektor pariwisata dan perekonomian di Bali. Salah satu yang dikhawatirkan adalah potensi penurunan kunjungan wisatawan dari Eropa akibat konflik internasional yang sedang berlangsung.
Dampak dinamika global tersebut disebut tidak hanya terasa pada pariwisata, tetapi juga merembet ke kenaikan harga energi dan bahan baku industri. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan biaya bagi pelaku usaha.
Pengamat ekonomi I Gusti Wayan Murjana Yasa mengatakan konflik global dapat memengaruhi mobilitas wisatawan sekaligus stabilitas ekonomi. Menurutnya, situasi ini perlu diantisipasi karena Bali memiliki ketergantungan tinggi pada kunjungan wisatawan mancanegara.
“Perubahan geopolitik ini berdampak pada kehadiran wisatawan, khususnya dari Eropa, yang juga terdampak konflik internasional,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kenaikan harga energi yang memicu peningkatan harga bahan baku, termasuk plastik yang digunakan di berbagai industri. Kenaikan tersebut dinilai berdampak langsung pada meningkatnya biaya produksi.
“Plastik sekarang naik harganya, sehingga biaya input produksi menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Dalam situasi tersebut, pelaku usaha diharapkan menyesuaikan strategi produksi untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Upaya efisiensi dinilai penting agar tekanan biaya tidak berujung pada kenaikan harga jual yang lebih besar.
Selain itu, pemerintah dan pelaku usaha diharapkan mampu beradaptasi dengan dinamika global yang terus berkembang. Dengan strategi yang tepat, dampak negatif dapat ditekan dan stabilitas ekonomi tetap terjaga.