BERITA TERKINI
Gejolak Geopolitik Global Tekan Industri Banyumas, Ekspor Kayu Olahan Turun 47 Persen

Gejolak Geopolitik Global Tekan Industri Banyumas, Ekspor Kayu Olahan Turun 47 Persen

Gejolak geopolitik global, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga konflik di Timur Tengah, mulai berdampak pada sektor industri di Kabupaten Banyumas. Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinnakerin) Banyumas mencatat penurunan performa ekspor pada sejumlah komoditas unggulan daerah.

Kepala Bidang Hubungan Industrial Dinnakerin Banyumas, Tasroh, mengatakan situasi global memengaruhi produktivitas perusahaan lokal, terutama yang berorientasi ekspor. Berdasarkan laporan Forum HRD Kabupaten Banyumas, pesanan ekspor kayu olahan disebut menurun hingga 47 persen.

Menurut Tasroh, Banyumas memiliki potensi ekspor yang besar pada komoditas seperti kayu olahan dan alas kaki. Namun, konflik Rusia-Ukraina serta ketegangan di Timur Tengah dinilai turut menekan pendapatan perusahaan. “Pengaruhnya besar sekali,” kata Tasroh, Senin (4/5/2026).

Sektor kayu dan fashion paling terdampak

Sektor kayu olahan menjadi salah satu yang paling terpukul. Tasroh menyebut, dari 12 perusahaan kayu di Banyumas yang rata-rata mengandalkan sekitar 60 persen pendapatan dari ekspor, seluruhnya terdampak. Ia menjelaskan, konflik global membuat operasional pengiriman terganggu hingga terhenti.

“Banyak kontainer yang berhenti di tengah jalan karena situasi perang. Praktis ekspor ke wilayah tersebut stop,” ujarnya.

Selain kayu, industri alas kaki dan fashion, termasuk rambut palsu (wig), juga mengalami tekanan. Di Banyumas terdapat sekitar sembilan perusahaan pada sektor tersebut yang selama ini menyasar pasar ekspor, termasuk Rusia. Tasroh menyebut permintaan dari Rusia sebelumnya besar, terutama untuk produk fashion dan wig, namun kini ikut tertekan.

Tasroh memperkirakan kerugian atau potensi pendapatan yang hilang akibat situasi ini mencapai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17,3 miliar per tahun. Ia juga menyampaikan penurunan pendapatan perusahaan diperkirakan berada pada kisaran 35 hingga 40 persen.

Imbas pada kesejahteraan pekerja

Lesunya ekspor berdampak pada kesejahteraan pekerja. Tasroh menyebut bonus dan insentif menurun, sementara pengurangan tenaga kerja tidak bisa dihindari. Meski tidak disebut terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, tren pengurangan tenaga kerja disebut meningkat dalam dua tahun terakhir.

Data Dinnakerin mencatat, pada 2024 terdapat sekitar 300 kasus PHK, kemudian meningkat menjadi 560 kasus pada 2025 saat konflik Rusia-Ukraina memuncak. “PHK itu ada setiap hari, meski hanya satu atau dua orang,” kata Tasroh. Ia menambahkan, hilangnya bonus dan insentif turut memengaruhi produktivitas karena pendapatan perusahaan menurun.

Langkah pemerintah dan program Salin Aslimas

Untuk merespons situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas melakukan pembinaan agar hak-hak dasar pekerja, seperti upah layak dan jaminan sosial, tetap terpenuhi. Pemkab juga mendorong pemerintah pusat melakukan diplomasi ekonomi untuk membuka pasar ekspor baru.

Di tingkat lokal, Banyumas meluncurkan program Salin Aslimas (ASN Peduli pada Pekerja). Dalam program ini, aparatur sipil negara (ASN) di Banyumas menyisihkan iuran Rp16.800 per bulan untuk membayarkan jaminan sosial bagi pekerja rentan dan informal yang terdampak kondisi ekonomi.

Tasroh menyebut, saat ini hampir 2.000 pekerja informal telah terlindungi melalui iuran tersebut. Ia mengatakan program ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat karena manfaat jaminan sosial dapat berupa santunan hingga puluhan juta rupiah apabila terjadi kecelakaan kerja atau kematian. Program perlindungan itu direncanakan berjalan berkelanjutan sebagai jaring pengaman sosial di tengah ketidakpastian ekonomi global.