BERITA TERKINI
GAPKI Bidik Timur Tengah dan Afrika sebagai Pasar Baru Sawit Indonesia pada 2018

GAPKI Bidik Timur Tengah dan Afrika sebagai Pasar Baru Sawit Indonesia pada 2018

Jakarta — Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan pasar produk kelapa sawit pada 2018 akan lebih baik dibandingkan 2017, seiring perbaikan ekonomi di berbagai negara. Para pengusaha pun menyatakan kesiapan untuk melakukan ekspansi bisnis ke sejumlah kawasan baru.

Sekretaris Jenderal GAPKI, Togar Sitanggang, mengatakan pasar Afrika, Timur Tengah, dan Brunei menjadi target yang tengah dilirik pada tahun ini. Menurutnya, pelaku usaha saat ini masih mendalami kondisi di negara-negara tujuan tersebut.

“Kami tahun ini lirik pasar Afrika, Timur Tengah, dan Brunei. Maka dari itu, saat ini kita sedang cari tahu lebih dekat apa yang terjadi di negara tujuan,” kata Togar di kantornya, Selasa (30/1/2018).

Selain pasar nontradisional, GAPKI juga memperkirakan pasar-pasar tradisional seperti China, Eropa, dan Bangladesh akan menunjukkan perbaikan. Karena itu, peningkatan kinerja di negara-negara pelanggan tetap produk sawit Indonesia dinilai tetap penting.

Togar menambahkan, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan investasi, mendorong ekspor terutama ke pasar nontradisional, meningkatkan produktivitas nasional, serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, program kerja GAPKI pada 2018 akan difokuskan pada sejumlah agenda.

Pertama, GAPKI akan meningkatkan program kemitraan dengan petani sawit swadaya, khususnya untuk replanting dan peningkatan produktivitas. Kedua, penguatan dan percepatan implementasi aspek keberlanjutan melalui ISPO.

Ketiga, GAPKI menyiapkan penanganan hambatan perdagangan, termasuk isu-isu negatif seperti anti-dumping biodiesel asal Indonesia oleh Amerika Serikat. Di sisi lain, isu yang mengaitkan kelapa sawit dengan deforestasi disebut masih akan terus muncul, terutama di Uni Eropa, termasuk rencana penghentian program biodiesel dari minyak sawit pada 2021. Selain itu, persepsi negatif di sejumlah negara pengimpor yang menilai minyak sawit sebagai minyak nabati yang kurang sehat dan berkualitas rendah juga masih menjadi pembahasan.

Keempat, GAPKI menyoroti penanganan isu domestik, seperti pengelolaan lahan gambut dan pencegahan kebakaran lahan dan hutan, masalah penetapan kawasan hutan, serta sosialisasi kepada para pemangku kepentingan mengenai strategis dan pentingnya industri kelapa sawit.