Finlandia, yang memiliki perbatasan timur lebih dari 1.300 kilometer dengan Rusia—terpanjang di antara negara-negara Uni Eropa—kini meninjau ulang kebijakan keamanannya setelah invasi Rusia ke Ukraina. Sejak akhir Perang Dunia II, kawasan perbatasan itu relatif stabil, namun situasi berubah sejak Rusia melancarkan serangan ke Ukraina dengan mengerahkan hampir 200 ribu pasukan.
Di pos perbatasan Vaalimaa, yang disebut sebagai titik perlintasan terdekat menuju Helsinki, otoritas perbatasan menyatakan kondisi sejauh ini masih normal. Komandan penjaga pos, Kapten Jussi Pekkala, mengatakan hanya ada sejumlah warga Ukraina yang melintasi perbatasan untuk menghindari konflik.
Meski demikian, Pekkala menegaskan pihaknya bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Ia menyebut petugas perbatasan biasanya menjadi pihak pertama yang dapat melihat perubahan situasi jika terjadi perkembangan di lapangan.
Perubahan sikap publik terhadap NATO
Perang di Ukraina disebut mengusik rasa aman masyarakat Finlandia. Selama beberapa dekade, negara ini mempertahankan kebijakan tidak bergabung dengan aliansi militer, sambil menjaga hubungan dengan Moskow dan tetap melatih militernya dengan baik. Namun sejak 24 Februari, ketika Rusia memulai serangan militer ke Ukraina, perdebatan soal arah kebijakan keamanan kembali menguat.
Selama ini, mayoritas warga Finlandia menolak keanggotaan NATO. Namun jajak pendapat terbaru stasiun penyiaran nasional YLE setelah serangan Rusia menunjukkan perubahan: 53% responden menyatakan mendukung Finlandia bergabung dengan NATO. Angka itu kemudian meningkat lagi pada bulan ini menjadi 62%.
Menteri Pertahanan Finlandia, Antti Kaikkonen, menilai lonjakan dukungan itu memiliki alasan yang jelas. Menurutnya, banyak orang sebelumnya mengira dekade 2020-an akan berlangsung damai, tetapi kini perang terjadi di Eropa dan lokasinya tidak jauh dari Finlandia. Pada awal bulan ini, Finlandia dan Swedia juga diundang menghadiri pertemuan NATO di Brussel.
Pemerintah siapkan penilaian keamanan terbaru
Kaikkonen mengatakan pemerintah akan menyampaikan penilaian keamanan terbaru kepada parlemen pada April. Ia mengisyaratkan pembahasan mengenai kemungkinan keanggotaan NATO akan mengemuka, dan sejumlah pihak memperkirakan sidang parlemen berikutnya akan menyoroti langkah-langkah yang diperlukan jika Finlandia memutuskan untuk bergabung.
Risiko dan ancaman konsekuensi dari Rusia
Wacana keanggotaan NATO juga dibayangi risiko. Rusia disebut berulang kali menyampaikan ancaman “konsekuensi politik dan militer yang serius” jika Finlandia secara resmi mengajukan permohonan menjadi anggota NATO. Keanggotaan NATO akan membuka akses pada jaminan keamanan aliansi, termasuk perlindungan kolektif sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 NATO.
Penasihat parlemen, Henri Vanhanen, menilai jika Finlandia berniat bergabung, maka saat ini merupakan momentum yang tepat. Ia menyebut pilihan tersebut sebagai “sekarang atau tidak sama sekali.” Menurutnya, jika Finlandia memilih tidak bergabung, negara itu perlu menjelaskan landasan utama keamanan di masa depan, termasuk apakah kerja sama pertahanan internasional yang erat dengan Uni Eropa sudah memadai.
Vanhanen juga berpendapat bahwa Finlandia dapat memberi nilai tambah bagi NATO. Ia mengatakan Finlandia bukan “konsumen keamanan,” mengingat militernya terlatih baik, memiliki kompatibilitas penuh dengan struktur operasi NATO, serta berada di lokasi geopolitik yang strategis. Dalam pandangannya, Finlandia dapat menjadi “produsen keamanan” bagi aliansi tersebut.

