BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik Timur Tengah Naikkan Risiko Inflasi, Pangkas Suku Bunga The Fed Kian Sulit

Eskalasi Konflik Timur Tengah Naikkan Risiko Inflasi, Pangkas Suku Bunga The Fed Kian Sulit

Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi global, yang pada gilirannya membatasi ruang Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga.

Pasar keuangan global memasuki fase yang kian kompleks seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Wall Street menutup pekan perdagangan di zona merah, dengan pelemahan pada indeks utama seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average. Pergerakan ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang kini lebih menaruh perhatian pada risiko global, tidak semata pada data ekonomi.

Sejak eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari, tekanan jual disebut terjadi secara konsisten di pasar saham. Penurunan indeks yang berlangsung hingga empat pekan berturut-turut, disertai pergerakan di bawah level teknikal penting seperti rata-rata 200 hari, mengindikasikan pasar memasuki fase risk-off yang lebih dalam. Investor mulai melakukan penyesuaian harga terhadap meningkatnya risiko geopolitik.

Salah satu pemicu perubahan sentimen adalah kekhawatiran gangguan pada rantai pasok energi global. Ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia—meningkatkan kekhawatiran potensi gangguan suplai. Secara historis, gangguan di wilayah ini kerap diikuti lonjakan harga minyak dan volatilitas tinggi di pasar energi.

Kenaikan harga energi berpotensi memunculkan tekanan inflasi baru secara global. Berbeda dengan inflasi berbasis permintaan yang sebelumnya mulai mereda, inflasi akibat kenaikan harga energi dinilai lebih sulit dikendalikan. Risiko efek lanjutan (second-round effect) juga meningkat, ketika biaya produksi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara lebih luas.

Dampak kondisi tersebut terlihat pada ekspektasi kebijakan moneter. The Fed menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan potensi inflasi yang kembali meningkat, ruang untuk pemangkasan suku bunga menjadi semakin terbatas. Pasar mulai mengadopsi skenario higher for longer, yakni suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Dari sisi geopolitik, ketidakpastian juga meningkat karena arah resolusi konflik belum jelas. Pernyataan Donald Trump mengenai potensi negosiasi dengan Iran belum diikuti perkembangan signifikan di lapangan. Aktivitas militer yang masih berlangsung serta peningkatan pengerahan pasukan turut memperkuat pandangan bahwa risiko eskalasi tetap tinggi.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar mencermati indikator ekonomi domestik AS. Data sentimen konsumen mulai menunjukkan pelemahan, mencerminkan kehati-hatian rumah tangga di tengah tekanan harga energi. Jika tren berlanjut, konsumsi domestik—yang menjadi pilar utama ekonomi AS—berpotensi melambat.

Sementara itu, pasar tenaga kerja masih relatif solid dengan tingkat klaim pengangguran yang rendah. Namun kondisi ini juga dinilai dapat memperlambat proses penurunan inflasi, sehingga memperkuat alasan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.