Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat pada 2026 dinilai berpotensi memunculkan dampak ekonomi dan keamanan berskala global. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai posisi geografis Iran yang strategis membuat negara itu memiliki daya tekan besar terhadap stabilitas energi dunia, bahkan tanpa harus memiliki senjata nuklir.
Rahma menjelaskan Iran berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman, dengan Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi global. Selat selebar sekitar 21 mil tersebut dilalui hampir 20 juta barel minyak per hari atau mendekati 30% perdagangan minyak dunia. Jalur ini juga disebut penting bagi pasokan LNG yang menopang kebutuhan energi Eropa.
“Artinya bahan bakar untuk mobil, pesawat, pabrik semuanya bergantung pada jalur tersebut,” ujar Rahma dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, apabila Selat Hormuz ditutup akibat konflik, harga minyak dunia hampir pasti melonjak tajam dan memicu guncangan ekonomi global. Risiko gangguan jalur energi juga dinilai mengintai Bab el-Mandeb, rute strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez.
Rahma menyebut sekitar 12% perdagangan global melintasi Terusan Suez, sementara hampir 30% perdagangan kontainer dunia melewati Bab el-Mandeb. Ia menambahkan, gangguan keamanan di Bab el-Mandeb pada 2023 sempat menyebabkan penurunan lalu lintas pelayaran hingga hampir 70%.
Dampaknya, kapal-kapal terpaksa memutar mengelilingi Afrika. Kondisi itu menambah waktu pengiriman berminggu-minggu sekaligus meningkatkan biaya logistik secara signifikan.
Rahma juga menyoroti kepadatan kapal tanker di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb yang membuat kawasan tersebut rawan serangan. Menurutnya, kapal tanker berukuran besar dan bergerak lambat menjadi target empuk rudal maupun drone, sementara ruang manuver di perairan sempit sangat terbatas.
Ia menilai sejarah menunjukkan gangguan kecil saja dapat mengguncang pasar. Dalam Perang Tanker era 1980-an antara Iran dan Irak, harga minyak global disebut melonjak hingga 30%. Sementara serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco pada 2019 sempat mendorong harga minyak naik sekitar 20% dalam waktu singkat.
“Hal ini menunjukkan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Bahkan serangan terbatas saja dapat berdampak besar pada harga minyak. Oleh karena itu, keamanan pasokan minyak di Teluk Persia sangat penting untuk menjaga stabilitas harga minyak global,” katanya.
Rahma menilai, jika Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb tertutup secara bersamaan, dampaknya akan jauh lebih besar, mulai dari lonjakan harga energi, meningkatnya inflasi global, hingga perlambatan perdagangan internasional secara drastis. Dalam konteks itu, ia menilai Iran memiliki daya tawar signifikan karena kemampuannya memengaruhi jalur pasokan energi dunia. Ia juga menyebut serangan langsung terhadap Iran sebagai langkah yang tidak rasional mengingat konsekuensi global yang sangat besar.

