BERITA TERKINI
ESB Gelar Kelas Bisnis Gratis di Bandung untuk Bantu Pelaku Kuliner Hadapi Tekanan Ekonomi Global

ESB Gelar Kelas Bisnis Gratis di Bandung untuk Bantu Pelaku Kuliner Hadapi Tekanan Ekonomi Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan biaya bahan baku, industri Food & Beverage (F&B) di Kota Bandung dinilai tetap menunjukkan daya tahan. Bandung, yang dikenal sebagai salah satu kota kuliner utama di Indonesia, mencatat pertumbuhan positif yang didorong kreativitas pelaku usaha lokal serta adaptasi terhadap teknologi.

Di tingkat nasional, industri F&B Indonesia diproyeksikan tumbuh stabil pada kisaran 7–8 persen pada 2026, meski dunia menghadapi disrupsi rantai pasok. Jawa Barat disebut menjadi salah satu penyumbang utama, dengan Bandung sebagai penggerak, didukung keberadaan lebih dari 187.355 unit UMKM kuliner aktif di kota tersebut.

Optimisme terhadap geliat usaha kuliner di Bandung disampaikan Arnold Dharmma, Founder Jabarano Coffee. Ia menilai kemunculan kafe dan restoran baru setiap tahun menunjukkan minat terhadap industri F&B masih besar. Namun, ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak semata mengikuti tren sesaat.

“Semoga bukan hanya karena fomo atau viral saja, karena untuk tetap bertahan harus terus bisa berinovasi agar bisa berkelanjutan,” kata Arnold di sela kegiatan Kelas Bisnis Gratis “F&B Mentoring Day” yang digelar ESB (PT Esensi Solusi Buana) di Bandung.

Pandangan serupa disampaikan Meizal Rossi, Founder Kopi Moyan. Ia menyebut optimistis perekonomian Indonesia tetap baik di tengah konflik global. Menurutnya, bertambahnya pelaku baru di sektor F&B dapat dilihat sebagai sinyal positif, selama usaha dibangun dengan konsep yang jelas.

“Bagus, ini juga menunjukan ekonomi kita baik-baik saja. Terpenting membuka cafe baru bukan karena fomo, harus punya identitas kuat, dan jangan ragu untuk adaptasi,” ujarnya.

Dukungan terhadap pelaku usaha kuliner tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan kelas bisnis oleh ESB. Perusahaan ini menyatakan melihat adanya tekanan yang mendorong banyak bisnis kuliner di Asia Tenggara tutup, seiring lonjakan biaya bahan baku dan efek domino krisis ekonomi global pada 2026. Dalam konteks itu, ESB membawa program pendampingan ke Bandung.

ESB, yang disebut sebagai penyedia ekosistem teknologi F&B terintegrasi di Indonesia dan tercantum dalam Forbes Asia 100 to Watch 2025, membuka rangkaian roadshow nasional “F&B Mentoring Day” dari Bandung. Program ini dirancang sebagai respons atas tekanan ganda yang dihadapi pengusaha kuliner: kenaikan harga bahan baku yang dikaitkan dengan krisis energi global, sekaligus tuntutan konsumen terhadap layanan yang lebih cepat, transparan, dan berkesan.

Bandung dipilih sebagai kota pembuka dari rencana 10 kota roadshow nasional. Mengacu pada Open Data Jawa Barat, Bandung tercatat memiliki 187.355 unit UMKM kuliner aktif, menjadikannya salah satu kota dengan ekosistem kuliner terbesar di Jawa Barat.