BERITA TERKINI
Eropa Tingkatkan Pembelian LNG Yamal Jelang Rencana Larangan Impor Energi Rusia

Eropa Tingkatkan Pembelian LNG Yamal Jelang Rencana Larangan Impor Energi Rusia

Eropa meningkatkan pembelian gas alam cair (LNG) dari proyek Yamal milik Rusia menjelang rencana pelarangan impor energi dari Moskow. Di tengah rencana tersebut, ketergantungan kawasan itu terhadap LNG Yamal justru mencapai rekor baru pada awal 2026.

Analisis lembaga Urgewald berdasarkan data Kpler menunjukkan Uni Eropa menyerap hampir seluruh ekspor LNG Yamal pada kuartal pertama 2026. Dari total 71 kargo yang dikirim secara global, 69 kargo atau sekitar 97% masuk ke pasar Eropa, setara 5,07 juta ton.

Dalam periode yang sama, China hanya menerima dua kargo pada Januari dan tidak ada pengiriman pada Februari serta Maret. Urgewald memperkirakan Uni Eropa membayar sekitar US$3,33 miliar kepada Rusia untuk pembelian tersebut. Nilai transaksi turut terdorong oleh lonjakan harga gas global yang dipicu krisis di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz.

Harga gas acuan Eropa (TTF) dilaporkan naik 51% pada Maret dibandingkan Januari–Februari. Rata-rata harga sebelumnya berada di kisaran US$41 per MWh, lalu meningkat menjadi US$61 per MWh.

Dalam empat tahun terakhir, Eropa disebut telah menggelontorkan lebih dari US$230 miliar untuk impor minyak dan gas Rusia. Kondisi ini dinilai memperumit target Uni Eropa untuk menghentikan seluruh ketergantungan energi dari Rusia.

Menurut Urgewald, Eropa bukan hanya menjadi pembeli utama, tetapi juga tulang punggung logistik proyek Yamal LNG. Sejumlah kontrak terkait pasokan dan dukungan operasional bahkan dilaporkan masih berlaku hingga 2040.

Proyek Yamal bergantung pada armada terbatas kapal tanker es kelas Arc7 yang dapat beroperasi sepanjang tahun. Tanpa dukungan pelabuhan Eropa, distribusi LNG dari kawasan Arktik tersebut dinilai akan terhambat.

Sementara itu, upaya Rusia mengalihkan pasar ke Asia masih menghadapi kendala. Keterbatasan armada membuat ekspansi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Produsen gas Rusia, Novatek, disebut baru membentuk anak usaha galangan kapal untuk memperkuat kapasitas transportasi, namun dampaknya diperkirakan belum akan terasa dalam waktu dekat.