BERITA TERKINI
Ekspor Batik Pekalongan Bertumpu pada Asia Tenggara, Daster dan Batik Rayon Menjangkau Timur Tengah hingga Amerika Latin

Ekspor Batik Pekalongan Bertumpu pada Asia Tenggara, Daster dan Batik Rayon Menjangkau Timur Tengah hingga Amerika Latin

PEKALONGAN — Produk batik dari Pekalongan, Jawa Tengah, masih memiliki pasar ekspor yang kuat, terutama untuk kain sarung batik yang selama ini mendominasi pengiriman ke sejumlah negara di Asia Tenggara.

Sekretaris Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Pekalongan, Arief Wicaksono, mengatakan Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi dua negara tujuan utama ekspor kain sarung batik Pekalongan. Pernyataan itu disampaikan di Pekalongan, Minggu, 14 Januari 2018.

Menurut Arief, permintaan konsumen terhadap kain sarung batik sempat menurun seiring krisis global. Meski demikian, pasar Asia Tenggara masih menjadi andalan bagi pelaku usaha batik untuk menjaga keberlanjutan ekspor.

Produk lain menembus berbagai kawasan

Selain kain sarung batik, Asephi juga mengekspor produk kerajinan lain, seperti daster dan batik rayon. Produk-produk tersebut dikirim ke berbagai kawasan, antara lain Timur Tengah, Afrika, Amerika Serikat, Australia, dan Amerika Latin.

Arief menyebut kain sarung batik, daster, dan batik rayon masih diminati pasar mancanegara. Karena itu, pelaku usaha terus berupaya menjaga kualitas produk untuk memperluas pangsa pasar di luar negeri.

Daya beli turun, produksi ikut terdampak

Arief menilai krisis global cukup memengaruhi daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik. Kondisi itu membuat pelaku batik perlu meningkatkan kreativitas dan inovasi agar produk tetap bertahan dan diminati konsumen.

Ia mengatakan daya beli terhadap produk kerajinan batik menurun pada 2017 dan belum pulih hingga saat itu. Dampaknya, produksi batik turun sekitar 10–20 persen. Penurunan tersebut, menurut dia, tidak hanya terjadi di Kota Pekalongan, tetapi juga hampir merata di sejumlah negara tujuan ekspor.

Perkiraan pemulihan

Meski menghadapi tekanan permintaan, Arief memperkirakan daya beli masyarakat akan meningkat kembali pada tahun itu. Ia mengaitkan proyeksi tersebut dengan faktor keamanan dan kenyamanan, serta kebijakan pemerintah yang dinilai cukup baik dalam upaya menggeliatkan ekspor.