Kondisi global dinilai sedang tidak stabil di tengah berbagai konflik yang belum mereda. Situasi ini turut memunculkan kekhawatiran dan rumor mengenai potensi krisis. Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah indikator statistik ekonomi digunakan untuk membaca kondisi Indonesia, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, kondisi fiskal, nilai tukar, hingga harga BBM.
World Economic Forum (WEF) 2025 merilis empat risiko global teratas, yakni konflik bersenjata, temperatur ekstrem, kenaikan biaya hidup, dan polarisasi antarnegara. Risiko konflik bersenjata disebut sedang membara dan dinilai dapat memengaruhi risiko lain, termasuk biaya hidup dan polarisasi. Dalam konteks itu, dampaknya terhadap Indonesia menjadi perhatian, terutama melalui kinerja pertumbuhan dan stabilitas harga.
Memasuki akhir 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat meningkat dan menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada triwulan IV 2025, ekonomi nasional tumbuh 5,39 persen, sehingga rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen.
Kinerja tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ASEAN yang berada di level 4,4 persen pada periode yang sama. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global tercatat 3,3 persen, dan pada 2026 diproyeksikan melambat menjadi 3,2 persen. Pertumbuhan ASEAN juga diperkirakan turun menjadi 4,3 persen.
Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi berada pada rentang 4,9 persen hingga 5,7 persen (year-on-year). Seperti pada 2025, pertumbuhan disebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi.
Pada awal 2026, konsumsi turut terdorong oleh banyaknya hari libur di triwulan I. Konsumsi transportasi dilaporkan meningkat, dengan kondisi tiket pesawat dari Tarakan, Balikpapan, Samarinda, dan Banjarmasin menuju sejumlah kota di Pulau Jawa—termasuk Surabaya, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta—disebut penuh.
Konsumsi pangan juga meningkat, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Kondisi ini umumnya berpengaruh pada harga pangan. Data menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 sebesar 4,76 persen (year-on-year). Kenaikan inflasi tersebut lebih dipengaruhi oleh pencabutan subsidi listrik, sementara inflasi inti masih berada pada 2,5 persen.
Inflasi inti menggambarkan kenaikan harga yang dipengaruhi ketersediaan dan permintaan, termasuk pada kelompok pangan. Produktivitas pangan dinilai cukup stabil, khususnya di Pulau Jawa yang disebut mengalami panen raya di banyak daerah. Dengan permintaan dan penawaran yang sama-sama meningkat, inflasi pangan disebut relatif stabil.
Stabilnya harga pangan dipandang berperan penting dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli karena kebutuhan konsumsi berlangsung setiap hari. Dengan demikian, inflasi akibat pencabutan subsidi listrik dinilai berpotensi bersifat sementara sehingga tingkat harga cenderung kembali stabil.
Selain inflasi, indikator lain yang menjadi perhatian adalah nilai tukar rupiah. Pada 18 Maret 2026, rupiah sempat berada di level Rp 17.041 per dolar AS, kemudian menguat. Dalam data yang disebutkan, rupiah kembali menguat menjadi Rp 16.811,20 per dolar AS, yang menunjukkan penguatan dalam sepekan terakhir.
Di tengah ketidakpastian global, rangkaian indikator tersebut menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih terjaga, sementara stabilitas harga dan pergerakan nilai tukar menjadi faktor penting yang terus dipantau.

