Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan kebijakan moneter saat ini sudah sesuai dengan kondisi ekonomi kawasan euro. Namun, ECB menekankan perlunya kesiapan menghadapi guncangan baru, termasuk potensi ancaman militer dari Rusia.
Anggota Dewan Gubernur ECB, Gediminas Šimkus, mengatakan bank sentral telah mencatat keberhasilan signifikan pada tahun lalu dengan menjadi satu-satunya bank sentral utama dunia yang berhasil mencapai target inflasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat otoritas moneter lengah terhadap berbagai risiko baru.
Menurut Šimkus, gejolak politik global diperkirakan masih berlanjut dan dapat menggoyahkan kondisi ekonomi yang saat ini relatif stabil—dengan inflasi sesuai target, pertumbuhan mendekati potensi, serta suku bunga berada di level netral.
Ia menyoroti bahwa kebijakan Amerika Serikat kerap menjadi perhatian karena dampaknya terhadap Eropa, terutama melalui jalur perdagangan. Namun, ia menambahkan bahwa kawasan euro juga menghadapi risiko dari arah timur yang memiliki karakter berbeda, yakni ancaman agresi militer.
Lithuania, Estonia, dan Latvia selama ini menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan agresi Rusia. Kekhawatiran tersebut mencakup serangan siber, kampanye disinformasi, serta pelanggaran wilayah udara oleh drone dan jet tempur.
Šimkus menekankan pentingnya ketahanan sistem distribusi uang tunai dan sistem pembayaran dalam menghadapi risiko semacam itu, sekaligus menjaga kebijakan moneter tetap fleksibel. Ia menilai, jika risiko militer meningkat, masyarakat cenderung mencari uang tunai sehingga distribusinya harus berjalan sangat efisien.
Selain ancaman geopolitik, ia juga mengingatkan risiko perubahan iklim yang menuntut kesiapan sektor perbankan di Eropa. Šimkus menyatakan pelajaran dari masa lalu menunjukkan bank sentral tidak bisa berkomitmen pada satu jalur kebijakan atau janji tertentu.
Ia menambahkan bahwa lingkungan global bersifat volatil dan guncangan dapat terus datang. Meski volatilitas bisa menekan bank sentral untuk bertindak cepat, Šimkus menilai ekonomi kawasan euro kini relatif lebih tahan terhadap guncangan, dan para peramal sering kali melebih-lebihkan dampak risiko.
Menurutnya, kunci kebijakan adalah tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap perubahan data, melainkan tetap fokus pada tren serta kekuatan utama yang membentuk perekonomian.

