Dunia digambarkan seolah bergerak dalam orbit satu figur: Donald Trump. Gambaran itu muncul dalam artikel opini “It’s Trump World. We Just Live in It” karya Frank Bruni dan Bret Stephens yang terbit pada 19 Maret 2026, yang menyoroti bagaimana gaya kepemimpinan Trump membentuk arah, ritme, dan persepsi global.
Salah satu bagian yang disorot adalah ironi ketika Trump disebut “terkejut” atas penutupan Selat Hormuz dan ketidaksediaan sekutu Eropa untuk ikut berperang. Situasi itu kontras dengan sikap Trump yang sebelumnya kerap meremehkan sekutu-sekutu Amerika. Pada saat yang sama, muncul nada pembelaan bahwa perang justru “berjalan cukup baik”, memperlihatkan adanya dua cara pandang yang berbeda dalam menilai eskalasi konflik.
Narasi tersebut tidak hanya membaca konflik sebagai peristiwa militer, melainkan sebagai gejala politik yang lebih luas: keputusan dan respons global menjadi sangat dipengaruhi oleh satu figur dan gaya kepemimpinannya yang impulsif, transaksional, serta penuh kejutan. Dalam kerangka ini, frasa “ini adalah dunia milik Trump” tidak lagi sekadar metafora, melainkan cara menjelaskan realitas geopolitik yang dinilai semakin personalistik.
Fenomena itu dipadankan dengan gagasan Leviathan Thomas Hobbes tentang kekuasaan terpusat yang menciptakan keteraturan melalui dominasi. Bedanya, jika Leviathan Hobbes bersifat institusional, dominasi yang diasosiasikan dengan Trump dipahami lebih personal: arah kebijakan geopolitik dinilai lebih bergantung pada preferensi individu ketimbang kalkulasi institusi.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, dalam konteks tersebut, diposisikan bukan sekadar respons militer, melainkan reaksi terhadap pola tekanan yang dinilai tidak konsisten. Ketika ancaman dan negosiasi berjalan bersamaan, aktor lain terdorong masuk ke dalam pola reaksi berantai. Dunia pun digambarkan bergerak bukan melalui konsensus, melainkan melalui respons terhadap impuls kekuasaan.
Artikel itu juga dibaca sebagai cerminan bias laten media Barat. Dalam dialog antara Bruni dan Stephens, kritik terhadap Trump kerap dibingkai sebagai pesimisme berlebihan, bahkan dituduh sebagai keinginan agar Amerika gagal. Pola ini menunjukkan kecenderungan defensif terhadap proyek kekuasaan Barat, terutama ketika berhadapan dengan musuh seperti Iran.
Dalam pembacaan tersebut, media dipandang tidak hanya melaporkan realitas, tetapi juga membentuknya. Ketika operasi militer disebut “berjalan cukup baik”, publik dapat diarahkan untuk melihat perang sebagai sesuatu yang terkendali dan rasional, sementara dampak destruktifnya berisiko tersisih dari perhatian. Penderitaan di Timur Tengah menjadi latar, sedangkan narasi utama tetap berpusat pada kepentingan strategis Barat.
Iran, dalam framing semacam itu, kerap diposisikan sebagai ancaman inheren, bukan sebagai aktor rasional yang merespons tekanan. Padahal, penutupan Selat Hormuz disebut sebagai langkah strategis yang logis dalam menghadapi tekanan yang dianggap eksistensial. Namun, konteks ini dinilai sering terhapus oleh bingkai pemberitaan yang konfrontatif.
Dampak “dunia Trump” juga dinilai terasa pada struktur aliansi global, terutama NATO. Ketika Trump secara konsisten meremehkan sekutu Eropa, solidaritas aliansi disebut melemah. Keengganan Eropa terlibat dalam konflik Iran tidak hanya dibaca sebagai pertimbangan strategi, tetapi juga sebagai gejala kepercayaan yang terkikis.
Dalam perspektif geopolitik, situasi itu membuka ruang fragmentasi. NATO digambarkan tidak lagi tampil sebagai blok solid, melainkan kumpulan negara dengan kepentingan yang semakin divergen. Ketika kepemimpinan Amerika dinilai tidak mampu mengonsolidasikan aliansi, dunia disebut bergerak menuju multipolaritas yang lebih rapuh.
Bagi dunia Islam, situasi ini menghadirkan paradoks. Di satu sisi, tekanan terhadap Iran dapat memperkuat solidaritas simbolik antarnegara Muslim. Di sisi lain, perpecahan internal tetap menjadi penghambat utama, membuat dunia Islam dinilai belum keluar dari posisi reaktif dan masih berada dalam orbit kekuatan besar.
Dalam konteks itu, Iran tampil sebagai simbol resistensi sekaligus titik rawan eskalasi. Ketika konflik terus dipelihara dalam logika dominasi, ruang diplomasi disebut menyempit. Dunia Islam pun berisiko tetap menjadi medan, bukan aktor utama.
Pada akhirnya, ungkapan bahwa dunia adalah milik Trump dibaca bukan hanya sebagai kritik, melainkan diagnosis atas krisis kepemimpinan global. Ketika satu figur mendominasi arah dunia, stabilitas menjadi rapuh dan masa depan lebih bergantung pada dinamika personal ketimbang tatanan yang adil dan berimbang.

