Anggota Komisi XI DPR Ahmad Najib Qodratullah menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa untuk menghadapi dampak ekonomi dari ketidakpastian global. Menurut dia, soliditas nasional diperlukan agar Indonesia tidak mudah terganggu oleh pihak luar yang dinilai tidak senang dengan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Najib menyebut Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ia menilai ketika ekonomi suatu negara meningkat, yang menjadi perebutan bukan hanya pasar domestik, melainkan juga akses bahan mentah, jalur logistik, pengaruh politik, kontrol teknologi, hingga aliansi regional.
Ia merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen. Dalam pernyataannya, Najib juga menyebut capaian tersebut sebagai yang terbaik dalam 10 tahun terakhir.
Najib menilai posisi Indonesia saat ini strategis karena memiliki tiga faktor sekaligus, yakni populasi besar, sumber daya alam seperti nikel, batu bara, dan sawit, serta posisi maritim yang penting. Ia menyinggung sejumlah titik strategis seperti Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Selat Malaka, dan jalur Indo-Pasifik.
Dengan kombinasi tersebut, Najib berpandangan bahwa jika pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil, peran Indonesia akan makin penting dalam peta persaingan antara Amerika Serikat, China, dan kekuatan regional lainnya.
Terkait potensi gangguan, Najib menilai ancaman paling realistis bukan invasi militer, melainkan gangguan nonkonvensional. Ia mengatakan Indonesia sangat bergantung pada ekspor komoditas, sehingga guncangan harga energi dapat cepat berdampak pada kondisi fiskal dan nilai tukar rupiah.
Ia juga menyoroti potensi intervensi informasi, mulai dari disinformasi di media sosial, pembelahan isu agama dan suku, penggiringan opini antipemerintah, hingga sentimen pasar yang dipicu rumor. Menurut Najib, tujuan dari gangguan semacam itu bukan menjatuhkan negara secara militer, melainkan membuat pengambilan keputusan ekonomi tersendat.
Najib menambahkan, sektor yang dinilainya paling rawan menghadapi tekanan antara lain hilirisasi mineral, terutama nikel. Ia menilai kebutuhan baterai kendaraan listrik membuat posisi Indonesia meningkat tajam dalam rantai pasok global, namun sekaligus memunculkan persaingan karena negara lain menginginkan sumber nikel tanpa melihat Indonesia menjadi terlalu dominan.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya jalur laut, khususnya Selat Malaka dan kawasan sekitarnya yang disebutnya sebagai urat nadi perdagangan. Najib menilai gangguan kecil di jalur tersebut dapat langsung memukul ekspor, impor energi, biaya logistik, dan nilai tukar Indonesia.
Dalam konteks geopolitik yang memanas, Najib mengingatkan adanya berbagai pilihan sikap bagi masyarakat. Ia menilai masyarakat perlu waspada agar tidak mudah tergiring oleh disinformasi yang beredar melalui berbagai media.