BERITA TERKINI
Dosen FEB UNAIR: Transisi Energi Penentu Ketahanan Ekonomi, Ada Risiko Geopolitik dan Peluang Green Jobs

Dosen FEB UNAIR: Transisi Energi Penentu Ketahanan Ekonomi, Ada Risiko Geopolitik dan Peluang Green Jobs

Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Nur Aini Hidayati, menegaskan transisi energi bukan sekadar perubahan teknis dari energi fosil ke energi terbarukan. Menurutnya, transisi energi merupakan transformasi besar yang akan menentukan arah ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan gejolak geopolitik.

Pernyataan itu disampaikan Nur Aini dalam kegiatan diskusi dan pemaparan materi bertema transisi energi dan resiliensi ekonomi yang diikuti mahasiswa serta peserta dari kalangan akademik. Ia mengajak peserta melihat isu energi dari perspektif ekonomi secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi teknologi.

“Transisi energi itu bukan sekadar bicara panel surya atau mengganti PLTU. Ini menyangkut perubahan struktur ekonomi, daya saing, investasi, fiskal, lapangan kerja, hingga ketahanan nasional,” ujarnya.

Nur Aini menilai tema transisi energi kian relevan karena dunia sedang menghadapi ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, krisis energi, perubahan iklim, serta tekanan ekonomi internasional. Kondisi tersebut, katanya, berdampak langsung terhadap stabilitas negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia menekankan, mahasiswa ekonomi perlu memahami posisi strategis energi dalam sistem perekonomian. Energi bukan semata urusan kelistrikan, melainkan input dasar yang memengaruhi keberlangsungan industri, distribusi logistik, aktivitas produksi, hingga daya beli masyarakat.

“Ekonomi yang resilien bukan ekonomi yang diam dan kaku, tetapi ekonomi yang mampu menyerap guncangan, beradaptasi, dan bertransformasi,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Nur Aini menjelaskan bahwa era energi terbarukan membuka peluang ekonomi baru melalui tumbuhnya green jobs, green industry, dan green finance. Ia mencontohkan mulai berkembangnya festival green jobs di Jawa Timur yang menunjukkan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja baru seiring transformasi energi.

“Ini membuka ruang ekonomi baru. Mahasiswa harus mulai membaca peluangnya, karena masa depan ekonomi dunia bergerak ke arah ekonomi hijau,” katanya.

Ia menambahkan, arah perekonomian Indonesia juga semakin terkait dengan hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi kreatif, serta penguatan ketahanan pangan dan energi nasional. Menurutnya, ekonomi masa depan tidak bisa bergantung pada komoditas mentah, melainkan harus memperkuat nilai tambah, inovasi, dan ketahanan sosial agar mampu bersaing secara global.

Nur Aini menyebut Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan yang besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hidro, bioenergi, angin, hingga energi laut. Namun, ia mengingatkan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil, sekitar 82 persen dari total bauran energi nasional.

“Masalah kita bukan tidak punya potensi. Potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu bisa menjadi listrik yang andal, harga yang terjangkau, investasi yang berjalan, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai banyak pihak memandang transisi energi sebagai proses sederhana, padahal implementasinya kompleks karena melibatkan teknologi, pembiayaan, infrastruktur, dan kelembagaan. Karena itu, pembangunan energi terbarukan membutuhkan kepastian regulasi, jaringan listrik yang kuat, teknologi penyimpanan energi, serta institusi yang bersih dan profesional.

“Transisi energi itu pembangunan ekosistem,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nur Aini menyoroti dampak konflik geopolitik terhadap ketahanan energi nasional. Ia menyinggung ketegangan di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terbesar dunia. Menurutnya, gangguan di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak global yang berimbas pada inflasi dan biaya hidup.

“Kita melihat bagaimana konflik internasional bisa memengaruhi harga minyak, biaya logistik, biaya produksi, sampai daya beli masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan kenaikan harga energi juga berdampak pada subsidi dan kompensasi energi pemerintah, sehingga membebani APBN dan mempersempit ruang fiskal. Karena itu, ia menilai transisi energi penting untuk menciptakan sumber energi alternatif yang lebih beragam dan lebih tahan terhadap gejolak global.

“Kita tidak boleh menaruh semua telur di satu keranjang. Ketika energi fosil terganggu, kita harus punya alternatif lain,” ujarnya.

Nur Aini menekankan tujuan utama transisi energi adalah membangun ekonomi yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan global. Ia menyebut ekonomi yang resilien harus mampu menghadapi guncangan harga energi, perubahan pasar internasional, serta ancaman krisis iklim tanpa mengalami keruntuhan sistemik.

“Transisi energi bukan sekadar mengganti batu bara dengan panel surya. Ini tentang bagaimana negara bisa berubah tanpa goyah,” katanya.

Ia juga mengingatkan perubahan iklim telah menjadi ancaman ekonomi global. Gelombang panas, kekeringan, banjir, hingga kenaikan permukaan air laut, menurutnya, dapat mengganggu produksi pangan, kesehatan masyarakat, dan stabilitas ekonomi nasional. Dalam konteks itu, energi terbarukan dinilai menjadi bagian penting dari strategi pembangunan berkelanjutan dan perlindungan ekonomi jangka panjang.

Meski peluangnya besar, Nur Aini menilai transisi energi juga menyimpan risiko yang perlu diantisipasi pemerintah. Salah satunya stranded asset, yakni aset energi fosil yang kehilangan nilai sebelum masa operasionalnya selesai akibat percepatan transisi.

Ia juga menyoroti risiko ketimpangan sosial jika energi hijau hanya dapat diakses kelompok masyarakat mampu karena tingginya biaya investasi awal. Selain itu, ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan agar investor memiliki kepastian dalam menanamkan modal di sektor energi terbarukan.

“Investor akan masuk kalau regulasi jelas dan insentifnya konsisten. Dalam ekonomi kita belajar bahwa people respond to incentives,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Nur Aini mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa ekonomi, untuk terlibat aktif dalam proses transisi energi nasional. Ia menilai mahasiswa dapat berperan menyiapkan gagasan kebijakan, inovasi ekonomi hijau, pengembangan green finance, hingga penguatan industri berbasis energi bersih.

Menurutnya, masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia dan keberanian mengambil keputusan strategis. “Indonesia punya potensi besar. Tetapi potensi itu tidak otomatis menjadi masa depan. Semua harus melewati proses kebijakan, investasi, teknologi, dan tata kelola yang baik,” pungkasnya.