JAKARTA — Dompet Dhuafa kembali terlibat dalam upaya memperluas gerakan kemanusiaan untuk Palestina dengan berpartisipasi dalam Konferensi Asia Pasifik untuk Palestina (Asia Pacific Conference for Palestine). Konferensi ini diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP), Global Coalition for Al Quds and Palestine (GCAP), serta sejumlah lembaga filantropi.
Dompet Dhuafa hadir dalam konferensi pers kegiatan tersebut pada Kamis (30/10/2025) di Aula Buya Hamka, Kantor Pusat MUI, Jakarta. Konferensi bertema “Penguatan Aliansi untuk Bela Palestina” dijadwalkan berlangsung pada 7–8 November di Gedung MPR-DPR RI, Senayan, Jakarta.
Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ahmad Juwaini, mengatakan Dompet Dhuafa menjadi bagian dari kolaborasi lintas lembaga yang memiliki solidaritas terhadap perjuangan Palestina. Ia menilai konferensi ini sebagai momentum untuk membangun kesepahaman, memperkuat sinergi, dan menjalin kolaborasi dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik dalam mendukung upaya kemanusiaan serta program nyata bagi rakyat Palestina.
“Jadi kita ingin memanfaatkan ini untuk memperkuat jaringan kita se-Asia Pasifik sekaligus membangun kolaborasi dan kesepahaman bersama dalam membantu Palestina. Salah satunya mudah-mudahan di dalamnya akan dihasilkan deklarasi dan poin-poin yang lebih bersifat aksi bukan sekadar membangun solidaritas,” ujar Ahmad pada Kamis (30/10/2025).
Penyelenggaraan konferensi ini dilatarbelakangi perkembangan situasi di Gaza yang disebut semakin membutuhkan dukungan dan pengawalan dunia internasional agar tercapai perdamaian dan kemerdekaan bangsa Palestina. Dalam rujukan yang disebutkan dalam kegiatan tersebut, situasi sejak Oktober 2023 hingga November 2025 dilaporkan memburuk dengan korban sipil melampaui 60.000 jiwa, lebih dari separuhnya anak-anak dan perempuan. Infrastruktur vital seperti sekolah, rumah sakit, masjid, gereja, hingga pusat distribusi pangan dilaporkan hancur, hampir 70 persen bangunan di Gaza rata dengan tanah, serta sekitar 1,9 juta penduduk atau 80 persen populasi Gaza terusir dan hidup dalam kondisi pengungsian.
Sejumlah tokoh hadir dalam konferensi pers itu, antara lain Bunyan Saptono selaku Ketua Komisi HLNKI MUI, Sudarnoto Abdul Hakim selaku Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLN-KI), Amirsyah Tambunan selaku Sekretaris Jenderal MUI, Oke Setiadi selaku Ketua OC Konferensi Asia Pasifik, serta Mardani Ali Sera selaku Ketua BKSAP DPR RI.
Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan, menyatakan konferensi ditujukan untuk memperkuat solidaritas masyarakat Asia Pasifik, merumuskan langkah nyata dalam membela Palestina, dan membangun agenda bersama untuk menghentikan genosida serta mewujudkan kemerdekaan Palestina. Ia menyebut peserta konferensi akan menganalisis perkembangan terkini di Gaza dari perspektif kemanusiaan, politik, dan hukum internasional.
Ketua BKSAP DPR RI, Mardani Ali Sera, menyampaikan DPR RI menghargai ajakan MUI dan lembaga filantropi Indonesia serta mendukung pelaksanaan konferensi sebagai cerminan konsistensi dukungan rakyat Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. “Kami dari BKSAP sangat membuka diri untuk kolaborasi dengan semua pihak. Apalagi kami menyambut dengan gembira pelaksanaan Asia Pacific Conference for Palestine ini regional dan berharap sesudah ini kita akan terus saling berkolaborasi untuk mewujudkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin,” kata Mardani.
Konferensi ini juga disebut sebagai bagian dari pelaksanaan amanah pertemuan GCAP di Istanbul. Sejumlah agenda yang direncanakan antara lain pembahasan geopolitik Palestina dan solidaritas global, implikasi persoalan Palestina bagi kawasan Asia Pasifik, serta prospek perdamaian Palestina. Setelah itu, konferensi akan dilanjutkan dalam format kelompok kerja paralel untuk membahas lebih mendalam kondisi terkini Gaza dan Palestina, dinamika geopolitik termasuk peran negara-negara besar, serta potensi dukungan masyarakat Asia Pasifik.
Dalam kesempatan tersebut, Dompet Dhuafa juga disebut mendapatkan amanah untuk mengelola Dana Abadi untuk Palestina sebagai upaya mendorong dukungan berkelanjutan. Ahmad Juwaini menyatakan langkah ini diharapkan dapat mengubah pola bantuan yang bersifat instan menjadi lebih terencana, berkesinambungan, dan berdampak jangka panjang. “Kita bisa menyiapkan sebuah dana yang sifatnya lebih jangka panjang akan lebih bagus dan bisa digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih jangka panjang. Ini merupakan kesempatan Dompet Dhuafa memanfaatkan forum ini,” ujarnya.
Di akhir konferensi, penyelenggara menargetkan lahirnya dokumen rekomendasi bersama bertajuk “The Asia Pacific Declaration for Palestine 2025”, terbentuknya aliansi lintas sektor di kawasan Asia Pasifik, serta teridentifikasinya langkah konkret dalam diplomasi, advokasi, dan aksi kemanusiaan untuk Palestina.

